Notification

×

Iklan

Iklan

Menyalakan Kembali Api Kebangkitan Nasional

Rabu, 20 Mei 2026 | 06:02 WIB Last Updated 2026-05-19T23:02:50Z

 

Oleh: RK Dadan Surya Negara Anggota DPRD Provinsi Jabar Fraksi PKS


Tanggal 20 Mei kembali hadir sebagai pengingat lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908, sebuah tonggak yang sering disebut sebagai awal Kebangkitan Nasional Indonesia. Namun pertanyaan pentingnya hari ini bukan lagi sekadar bagaimana bangsa ini bangkit dari penjajahan, melainkan bagaimana Indonesia mampu bangkit dari persoalan-persoalan internal yang perlahan menggerus daya tahan bangsa sendiri.


Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 tahun 2026 ini mengusung tema,"Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara". Menjadi momen penting untuk memperkuat semangat solidaritas dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.Nilai-nilai kebangkitan bangsa yang dicetuskan lebih dari seabad lalu masih sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini.


Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar mengenang sejarah, tapi menjadi refleksi bersama bahwa kemajuan bangsa tidak bisa dicapai tanpa kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian antarwarga.


Kita hidup di tengah zaman yang bergerak cepat, tetapi tidak selalu bergerak ke arah yang tepat. Indonesia memang mencatat pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan kemajuan teknologi digital. Akan tetapi, di balik angka-angka itu, masih banyak persoalan yang terasa dekat dengan kehidupan rakyat sehari-hari: lapangan kerja yang sempit, biaya pendidikan yang terus naik, korupsi yang belum juga hilang, kesenjangan sosial yang melebar, hingga polarisasi masyarakat yang makin tajam akibat pertarungan politik dan arus media sosial.


Generasi muda hari ini tumbuh dalam situasi yang paradoks. Mereka memiliki akses ilmu pengetahuan yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya, tetapi pada saat yang sama menghadapi ketidakpastian masa depan yang lebih besar. Banyak lulusan perguruan tinggi kesulitan memperoleh pekerjaan layak. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya bekerja di sektor informal tanpa jaminan kesejahteraan. Di sisi lain, budaya instan dan pencarian popularitas di ruang digital sering kali lebih dihargai daripada kerja keras, integritas, dan penguasaan ilmu.


Dalam konteks inilah semangat Kebangkitan Nasional perlu dimaknai ulang. Kebangkitan hari ini bukan hanya soal melawan penjajahan fisik, tetapi melawan kemalasan berpikir, budaya korupsi, intoleransi, ketimpangan pendidikan, serta ketergantungan ekonomi dan teknologi pada bangsa lain.


Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjadi bangsa maju. Kita memiliki bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, keberagaman budaya, dan posisi strategis di dunia internasional. Tetapi modal itu tidak akan berarti tanpa kualitas manusia yang unggul. Karena itu, kebangkitan nasional abad ke-21 harus dimulai dari pembangunan manusia.


Pertama, negara harus serius memperbaiki kualitas pendidikan. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang pandai menghafal, tetapi lemah dalam berpikir kritis dan berinovasi. Sekolah dan perguruan tinggi perlu diarahkan untuk melahirkan generasi yang mampu menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja. Pendidikan karakter juga harus diperkuat agar lahir generasi yang jujur, disiplin, dan memiliki kepedulian sosial.


Kedua, pemberantasan korupsi harus kembali menjadi agenda utama bangsa. Korupsi bukan hanya merugikan keuangan negara, tetapi merusak kepercayaan rakyat terhadap institusi publik. Bangsa yang dipenuhi praktik suap dan penyalahgunaan kekuasaan akan sulit melompat menjadi negara maju. Kebangkitan nasional tidak akan pernah terwujud apabila elite politik dan pejabat publik justru memberi contoh buruk kepada masyarakat.


Ketiga, pemerintah perlu memperkuat ekonomi rakyat berbasis produktivitas lokal. Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor dan eksploitasi bahan mentah. Hilirisasi industri, penguatan UMKM, pemberdayaan petani dan nelayan, serta pengembangan teknologi nasional harus menjadi prioritas jangka panjang. Anak-anak muda juga perlu didorong untuk masuk ke sektor inovasi, riset, dan industri kreatif yang memberi nilai tambah bagi bangsa.


Keempat, masyarakat harus kembali merawat persatuan nasional. Perbedaan agama, suku, pilihan politik, maupun pandangan sosial tidak boleh berubah menjadi permusuhan berkepanjangan. Bangsa ini didirikan di atas semangat gotong royong dan kebersamaan. Kebangkitan nasional akan kehilangan makna apabila rakyat sibuk saling membenci sesama anak bangsa.


Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan yang dipenuhi pidato formal dan unggahan media sosial. Momentum ini harus menjadi ajakan untuk melakukan evaluasi bersama: sudah sejauh mana Indonesia bergerak menuju cita-cita kemerdekaan?


Kebangkitan nasional sejati bukan lahir dari slogan, melainkan dari keberanian memperbaiki diri. Ia tumbuh dari rakyat yang mau bekerja keras, pemimpin yang berintegritas, pendidikan yang mencerdaskan, dan negara yang berpihak pada kepentingan publik.


Lebih dari seabad setelah lahirnya Budi Utomo, tantangan bangsa memang berubah. Namun satu hal tetap sama: Indonesia hanya akan menjadi besar apabila seluruh anak bangsanya memiliki kemauan untuk bangkit bersama.



×
Berita Terbaru Update