CIREBON,LENTERAJABAR.COM- Setelah ditetapkan gubernur Jawa Barat pada Rabu tanggal 14 Pebuari 2018 lalu di Gedung Sate Jalan Diponegoro no 22 kota Bandung,Dedi Taufikkurohman Pjs Walikota Cirebon,mengawali kerja hari pertamanya Jumat (16/2) .
Dedi melalukankan monitoring wilayah Benda Kulon kelurahan Argasunya kecamatan Harjamukti kota Cirebon akibat dampak longsor
Menurut Dedi Taufik berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat kota Cirebon sebagai salah daerah di Jabar yang terindikasi darurat bencana,kata Dedi kepada wartawan di RM. Sederhana Jl. Kartini kota Cirebon..
Lebih lanjut diutarakannnya, bicara bencana khususnya terkait banjir mesti dilakukan secara sistemik. Bagaimana kondisi hulu hingga hilirnya, termasuk juga pola kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan atau kurang baik, itu pun menjadi persoalan.
Ditambahkan Dedi,makanya kita akan benahi dan saya akan mengunjungi Balai Besar. Karena sungai-sungai ini dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai bukan oleh pemerintah kota Cirebon,jelas pejabat Pemprov Jabar yang saat ini menempati Kepala Dinas Perbungunan Jawa Barat.
Terkait penanganannya (early warning) bersifat systemik dan secara button make tidak hanya di tangan pemerintah daerah saja. Dengan demikian, kata Dedi, dampaknya pun bisa diminimalisir dan masyarakat kota Cirebon tidak lagi merasa khawatir dengan banjir saat musim hujan tiba.
Selain itu juga kami akan coba nanti kira-kira akan saya potret dulu secara sistem itu seperti apa. Nanti hulunya dari mana, katanya dari Kuningan, terus kemudian juga berakhirnya di Muara Utara itu seperti apa. Karena ada beberapa dust yang masuk di Cirebon ini. Sehingga nanti dapat diketahui berbagi perannya seperti apa,pungkas Dedi.(Red).
Dedi melalukankan monitoring wilayah Benda Kulon kelurahan Argasunya kecamatan Harjamukti kota Cirebon akibat dampak longsor
Menurut Dedi Taufik berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat kota Cirebon sebagai salah daerah di Jabar yang terindikasi darurat bencana,kata Dedi kepada wartawan di RM. Sederhana Jl. Kartini kota Cirebon..
Lebih lanjut diutarakannnya, bicara bencana khususnya terkait banjir mesti dilakukan secara sistemik. Bagaimana kondisi hulu hingga hilirnya, termasuk juga pola kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan atau kurang baik, itu pun menjadi persoalan.
Ditambahkan Dedi,makanya kita akan benahi dan saya akan mengunjungi Balai Besar. Karena sungai-sungai ini dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai bukan oleh pemerintah kota Cirebon,jelas pejabat Pemprov Jabar yang saat ini menempati Kepala Dinas Perbungunan Jawa Barat.
Terkait penanganannya (early warning) bersifat systemik dan secara button make tidak hanya di tangan pemerintah daerah saja. Dengan demikian, kata Dedi, dampaknya pun bisa diminimalisir dan masyarakat kota Cirebon tidak lagi merasa khawatir dengan banjir saat musim hujan tiba.
Selain itu juga kami akan coba nanti kira-kira akan saya potret dulu secara sistem itu seperti apa. Nanti hulunya dari mana, katanya dari Kuningan, terus kemudian juga berakhirnya di Muara Utara itu seperti apa. Karena ada beberapa dust yang masuk di Cirebon ini. Sehingga nanti dapat diketahui berbagi perannya seperti apa,pungkas Dedi.(Red).
