Bewara Jabar

Metropolitan

Seni Budaya

Berita Terbaru ...

Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bandung Lebih Baik dari Nasional

6/24/2019 04:56:00 PM
BANDUNG,LENTERAJABAR.COM,-Upaya  pencegahan serta penanggulangan HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) di Kota Bandung saat ini sudah lebih baik dibandingkan dengan persentase nasional. Meski begitu, Pemerintah Kota Bandung melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) terus berkomitmen untuk menanggulanginya secara maksimal.

Menurut Sekretaris KPA Kota Bandung, Dr. Bagus Rahmat Prabowo, penanganan terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Bandung sudah jauh lebih baik dari persentase nasional. Di Kota Bandung sudah mampu memberikan ‘treatment coverage’ kepada 40 persen ODHA.

“Laporan dari UNAIDS kemarin itu Indonesia ranking 4 terburuk dalam pencegahan dan penanggulangan HIV, treatment coverage (jangkauan perawatan) kita (Indonesia) itu hanya sekitar 18 persen,” papar Bagus di sela-sela rapat koordinasi lintas sektor pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS tingkat Jawa Barat di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, Senin (24/6/2019).

“Semakin tinggi orang yang diobati maka infeksi baru semakin turun. Di Indonesia, kondisinya hanya 18 persen memperoleh perawatan. Artinya masih ada 82 persen yang positif tapi tidak tahu statusnya dan masih bisa menularkan orang lain. Kalau di Kota Bandung penanganannya sedikit lebih baik, kita sekitar 40 persen,” katanya.

Meski begitu, Bagus menegaskan, tingginya persentase pengobatan tersebut tidaklah cukup untuk menanggulangi dan mencegah penyebaran HIV/AIDS. Perlu upaya lainnya agar bisa menjangkau lebih dalam lagi kepada para ODHA.

Selain dari pengobatan yang menjadi bagian dari usaha moderen melalui medis dan obat-obatan, Bagus menyatakan bahwa upaya konvensional dengan pendekatan humanis dalam rangka mencegah penyebaran HIV/AIDS.

“Sekarang kita sudah punya berbagai metode untuk pencegahan penularan, misalnya yang klasik adalah tidak berhubungan seks atau tidak menggunakan napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif). Tapi ada pencegahan biomedis ini cukup tren, yaitu dengan pengobatan atau profilaksis pengobatan, ini bisa mencegah penularan,” katanya.

Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengaku bersyukur Kota Bandung masih memiliki KPA.

“Alhamdulillah Kota Bandung sampai saat ini masih konsisten, masih memiliki KPA. Sementara di daerah lain ternyata ada yang sudah tidak ada KPA,” katanya.

Wakil wali kota menegaskan, upaya pencegahan harus gencar agar dapat menekan angka penyebaran HIV/AIDS. Untuk itu, kolaborasi bersama KPA tidak hanya untuk menanggulangi para ODHA, tetapi turut berupaya mengantisipasi penyebarannya.

Di samping itu, ia yang juga Ketua Pelaksana KPA ini juga mengimbau kepada masyarakat Kota Bandung, khususnya dari kalangan generasi muda untuk memperhatikan pola hidupnya lebih sehat. Sehingga mampu meminimalisasi resiko terjangkit HIV/AIDS.

“Mudah-mudahan dengan ada KPA ini penanggulangan AIDS di Kota Bandung bisa lebih baik. Mudah-mudahan kerja sama Pemerintah Kota dengan KPA bisa berjalan dengan baik,”pungkasnya.(Ari/Red)


KPA: Masalah Sosial Jadi Persoalan Besar HIV/AIDS

6/24/2019 04:49:00 PM
BANDUNG,LENTERAJABAR.COM,-Masalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) tak sekadar persoalan kesehatan. Lebih dari itu, penanganan HIV/AIDS juga menyangkut permasalahan sosial.

“Masalah HIV bukan masalah kesehatan. Masalah kesehatannya itu hanya 10 persen, Sisanya 90 persen itu masalah sosial. Salah satunya masalah stigma. Contohnya banyak yang terkena masalah HIV malah dikeluarkan dari pekerjaan, ada anak sekolah yang dikeluarkan dari sekolah,” ungkap Sekretaris KPA Kota Bandung, Dr. Bagus Rahmat Prabowo di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, Senin (24/6/2019).

Bagus memaparkan, pemerintah pusat sudah mencanangkan target Three Zero pada 2030 mendatang. Ketiganya adalah, tidak ada lagi penularan HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, serta tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Menurut Bagus, persoalan stigma ini masih tinggi di Indonesia. Contohnya aktivitas seks bebas dengan menyudutkan Pekerja Seks Komersil (PSK) sebagai subjek. Padahal, dari data yang terhimpun faktor moralitas tak lantas memberikan pengaruh besar.

“Kita bisa lihat secara epidemologis orang terinfeksi HIV dari pekerja seks itu sangat kecil. Padahal mereka sering sekali beraktivitas seks dibandingkan dengan ibu rumah tangga yang hanya berdiam diri di rumah. Tapi ternyata kasus pada ibu rumah tangga jauh lebih banyak dari pada pekerja seks,” terangnya.

Bagus menambahkan, saat ini heteroseksual menjadi penyebab paling besar penularan HIV/AIDS, baik itu dari laki-laki ke perempuan ataupun sebaliknya. “Heteroseksual kita bagi dua antara pekerja seks dan non pekerja seks dan ternyata kira-kira hanya seperempatnya dari pekerja seks dan 75 persen dari heteroseksual dari non pekerja seks,” imbuhnya.

Sedangkan penyebab dari penggunaan jarum suntik saat menggunakan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza), Bagus menyebut semakin menurun. Bahkan, sekalipun terjadi bisa secepatnya ditanggulangi.

“Kalau dari Napza suntik yang terinfeksi itu trennya sekarang menurun drastis. Selain karena barangnya susah didapat dan harganya mungkin agak mahal. Orang sudah tidak nyaman untuk menyuntikan narkoba tapi sekarang trennya dihisap atau dikonsumsi secara oral. Kita pernah hit by epidemi, kita pernah menerima epidemi terbesar itu awal tahun 2000an ketika narkoba suntik waktu itu merajalela,” bebernya.

Oleh karenanya, Bagus mengajak seluruh masyarakat Kota Bandung lebih terbuka terhadap persoalan HIV/AIDS ini. Selain membuka diri untuk memeriksakan kondisi kesehatan, juga lebih terbuka untuk mencari pengetahuan seputar HIV/AIDS guna menekan stigma ODHA di tengah masyarakat.

“Itu membuktikan bukan pada masalah moral sebenarnya, tapi ini masalah sosial. Masalah pengetahuan yang rendah, hoaks dimana-mana dan kita terima begitu saja,” katanya.(Ari/Rls)

bjb WideSCREEN Gebrak Jakarta dengan Men in Black: International

6/23/2019 05:22:00 PM
JAKARTA ,LENTERAJABAR.COM,-- bjb WideSCREEN, acara nonton bareng film layar lebar yang rutin diselenggarakan bank bjb, kembali digelar untuk kesekian kalinya. Kali ini, bjb WideSCREEN mengajak masyarakat Jakarta dan sekitarnya untuk menyaksikan keseruan film Men in Black: International. Acara nonton bareng diselenggarakan di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (22/06/2019).

Event ini merupakan lanjutan dari bjb WideSCREEN sebelumnya yang juga menghadirkan suasana gegap gempita bagi nasabah yang menonton. Pada bulan April lalu, bank bjb turut memeriahkan peluncuran sekuel terakhir film superhero Avengers: Endgame lewat bjb WideSCREEN yang diselenggarakan di XXI Living World Alam Sutera Tangerang pada 27 Maret 2019 dan di Cinemax Mall of Serang pada 28 Maret 2019.

Film Men in Black: International merupakan sekuel ketiga dari franchise Men In Black yang pertama kali diluncurkan di Hollywood pada tahun 1997. Film Box Office ini sudah ditunggu-tunggu oleh jutaan penggemar setia yang tersebar di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia yang memiliki basis penonton film Hollywood sangat besar.

Secara singkat, sekuel MIB: International ini masih bercerita tentang pemburuan alien-alien dari galaksi antah berantah yang berkeliaran di Bumi. Setting film ini berlokasi di London sementara kisah film berfokus pada dua sosok agen pemerintah yang menjalankan misi rahasia. Seperti film MIB sebelumnya, sekuel teranyar ini sangat menghibur karena penonton akan disuguhi beragam adegan kocak mengundang tawa di sela aksi para agen.

“Sebagai perusahaan yang memahami kebutuhan nasabah, bank bjb selalu menghadirkan program-program menarik yang meriah dan mendorong antusiasme nasabahnya. bjb WideSCREEN ini merupakan salah satu cara bank bjb dalam merangkul masyarakat dengan cara yang menyenangkan. Film Men in Black: International dipilih karena memang sangat ditunggu-tunggu masyarakat,” kata Pemimpin Divisi Corporate Secrtetary bank bjb, M. As’adi Budiman.

Peserta mendapatkan tiket nonton bareng dengan cara melakukan pembukaan rekening untuk nasabah baru atau melakukan top up tabungan bagi nasabah existing, dengan blokir tabungan selama 1 bulan sebesar 80% dari nominal setoran serta dengan cara membuka deposito di 8 Kantor Cabang bank bjb di Jakarta (Kantor Cabang Khusus Jakarta, Kantor Cabang Hasyim Ashari, Kantor Cabang Saharjo, Kantor Cabang Gajah Mada, Kantor Cabang Rasuna Said, Kantor Cabang Kebayoran Baru, Kantor Cabang S.Parman dan Kantor Cabang Rawamangun). bank bjb juga memberikan promo gratis popcorn dan minuman bagi setiap transaksi menggunakan bjb DIGI untuk 250 transaksi pertama. Transaksi dapat berupa pembelian pulsa, top up GOPAY atau transfer antar bank.

Event bjb WideSCREEN Men in Black: International ini diharapkan bisa menghibur dan memanjakan nasabah. bank bjb akan terus memberikan program-program menarik bagi nasabah setia bank bjb, sehingga masyarakat akan menjadikan bank bjb sebagai pilihan utama dalam hal penggunaan produk, jasa dan layanan perbankan.

Program bjb WideSCREEN ini bertujuan untuk mendorong produk tabungan sekaligus merangkul nasabah baru melalui peningkatan Number of Account (NoA), khususnya dalam upaya peningkatan Current Account Saving Account (CASA) bank bjb. Program ini juga bertujuan meningkatkan penjualan produk dan layanan bank bjb lainnya termasuk menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK). bjb WideSCREEN sendiri merupakan agenda rutin yang diselenggarakan bank bjb sejak tahun 2012 lalu dan telah digelar di berbagai kota di Indonesia. ***