Notification

×

Iklan

Iklan

Pancasila Jangan Hanya Tinggal Slogan di Spanduk-Spanduk!

Senin, 01 Juni 2026 | 05:40 WIB Last Updated 2026-05-31T22:40:27Z

Oleh : RH Dadan Surya Negara Anggota DPRD Provinsi Jabar Fraksi PKS


Apa jadinya Indonesia jika kehilangan Pancasila bukan sebagai simbol, melainkan sebagai pedoman hidup berbangsa?


Pertanyaan itu terasa penting diajukan kembali setiap tanggal 1 Juni, ketika bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebab hari ini, tantangan terbesar Pancasila bukan datang dari upaya mengganti dasar negara secara terang-terangan, tetapi dari makin jauhnya praktik kehidupan bernegara dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.


Kita hidup di tengah situasi yang paradoks. Di satu sisi, Pancasila terus diucapkan dalam pidato, spanduk, ruang kelas, hingga media sosial. Namun di sisi lain, korupsi masih merajalela, ketimpangan ekonomi melebar, intoleransi sosial meningkat, dan politik sering dipenuhi permusuhan. Nilai-nilai Pancasila terdengar nyaring dalam slogan, tetapi sering redup dalam tindakan.


Sila Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya, seharusnya melahirkan masyarakat yang berakhlak dan saling menghormati. Namun kenyataannya, ujaran kebencian berbasis agama masih mudah ditemukan. Tempat ibadah kadang menjadi sasaran penolakan, sementara media sosial dipenuhi pertengkaran identitas yang memecah persaudaraan kebangsaan.


Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab juga menghadapi tantangan serius. Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih tinggi. Perundungan di sekolah terus terjadi. Bahkan di ruang digital, banyak orang kehilangan empati dan mudah menghakimi tanpa memahami persoalan secara utuh.


Sementara itu, sila Persatuan Indonesia sering diuji oleh polarisasi politik yang berkepanjangan. Perbedaan pilihan politik tidak lagi dipandang sebagai hal biasa dalam demokrasi, tetapi berubah menjadi permusuhan sosial. Akibatnya, masyarakat mudah terpecah hanya karena perbedaan pandangan.


Pada aspek ekonomi, sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia juga belum sepenuhnya terwujud. Pertumbuhan ekonomi memang terjadi, tetapi belum dinikmati secara merata. Sebagian masyarakat hidup dalam kemewahan, sementara sebagian lain masih kesulitan memperoleh pekerjaan layak, pendidikan berkualitas, dan akses kesehatan yang memadai. Ketimpangan inilah yang perlahan dapat mengikis rasa percaya masyarakat terhadap negara.


Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya dengan upacara dan seremoni. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan dan perilaku sosial.


Pertama, pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataan kesejahteraan. Program bantuan sosial harus dibarengi dengan penciptaan lapangan kerja produktif, penguatan UMKM, dan peningkatan kualitas pendidikan rakyat.


Kedua, pendidikan Pancasila harus diperbaiki. Selama ini Pancasila terlalu sering diajarkan sebagai hafalan, bukan sebagai nilai hidup. Sekolah dan perguruan tinggi perlu mengajarkan Pancasila melalui praktik sosial: toleransi, diskusi sehat, gotong royong, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.


Ketiga, penegakan hukum harus benar-benar adil. Pancasila akan kehilangan makna apabila hukum hanya tajam kepada rakyat kecil, tetapi tumpul terhadap pemegang kekuasaan. Kepercayaan publik hanya bisa tumbuh apabila negara menunjukkan keberpihakan pada keadilan.


Keempat, masyarakat juga memiliki tanggung jawab menjaga ruang publik yang sehat. Media sosial tidak boleh terus menjadi arena fitnah, provokasi, dan kebencian. Demokrasi membutuhkan perbedaan pendapat, tetapi perbedaan tidak boleh menghancurkan persatuan nasional.


Sejarah mencatat bahwa Soekarno pada 1 Juni 1945 memperkenalkan Pancasila sebagai dasar untuk mempersatukan bangsa yang sangat beragam. Artinya, sejak awal Pancasila bukan sekadar dokumen politik, melainkan kesepakatan moral agar Indonesia tetap berdiri di tengah perbedaan.


Hari ini, tantangan Indonesia jauh lebih kompleks dibanding masa awal kemerdekaan. Namun justru karena itulah Pancasila tetap relevan. Ia bukan warisan masa lalu yang disimpan di museum sejarah, tetapi kompas yang seharusnya membimbing arah bangsa di tengah perubahan zaman.


Jika Pancasila hanya berhenti menjadi slogan, maka bangsa ini akan mudah kehilangan arah. Tetapi apabila nilai-nilainya benar-benar dihidupkan dalam kebijakan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari, maka Pancasila akan tetap menjadi kekuatan terbesar Indonesia untuk menghadapi masa depan.

×
Berita Terbaru Update