
Oleh : RH Dadan Surya Negara Anggota DPRD Provinsi Jabar Fraksi PKS
Setiap tanggal 29 Mei, Indonesia memperingati Hari Lanjut Usia Nasional. Namun di tengah berbagai hiruk-pikuk persoalan sosial dan politik, keberadaan lansia sering kali hanya menjadi simbol seremoni tahunan. Padahal, cara sebuah bangsa memperlakukan orang lanjut usia sesungguhnya mencerminkan tingkat kemanusiaan dan kedewasaan sosial bangsa itu sendiri.
Indonesia saat ini sedang bergerak menuju era masyarakat menua. Jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun seiring membaiknya angka harapan hidup. Ini adalah tanda kemajuan. Akan tetapi, pertumbuhan jumlah lansia juga menghadirkan tantangan besar yang belum sepenuhnya siap dihadapi negara maupun masyarakat.
Masih banyak lansia yang hidup dalam kondisi rentan. Sebagian menghadapi persoalan ekonomi karena tidak memiliki jaminan hari tua yang memadai. Tidak sedikit yang tetap bekerja di usia senja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di desa-desa maupun kota besar, kita masih mudah menemukan lansia yang berjualan kecil-kecilan di pinggir jalan, bekerja sebagai buruh kasar, atau hidup sendirian tanpa pendampingan keluarga.
Persoalan lansia bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal kesepian dan keterasingan sosial. Perubahan pola hidup masyarakat modern membuat relasi keluarga semakin renggang. Banyak anak sibuk bekerja, sementara orang tua yang menua perlahan kehilangan ruang perhatian. Di tengah budaya yang semakin individualistis, lansia kerap dipandang tidak lagi produktif dan dianggap menjadi beban keluarga.
Padahal, lansia adalah generasi yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk membangun bangsa ini. Mereka adalah para petani yang dahulu menjaga ketahanan pangan, guru yang mendidik generasi, buruh yang menggerakkan ekonomi, hingga orang tua yang membesarkan anak-anaknya dengan segala keterbatasan hidup. Apa yang dinikmati Indonesia hari ini tidak lahir begitu saja, melainkan berdiri di atas kerja keras generasi terdahulu.
Karena itu, Hari Lansia seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap usia tua. Lansia bukan kelompok yang harus dikasihani, melainkan warga negara yang harus dihormati dan dilindungi hak-haknya. Mereka adalah mandat bangsa Indonesia!
Negara perlu memperkuat kebijakan perlindungan sosial bagi lansia, terutama dalam akses kesehatan, jaminan ekonomi, dan pelayanan publik yang ramah usia. Fasilitas kesehatan harus lebih siap menghadapi penyakit degeneratif yang banyak dialami lansia. Pelayanan administrasi publik juga perlu dirancang lebih manusiawi bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Selain itu, pembangunan kota dan ruang publik harus mulai memperhatikan kebutuhan lansia. Trotoar yang aman, transportasi yang mudah diakses, taman ramah lansia, hingga ruang interaksi sosial menjadi bagian penting dalam menciptakan kualitas hidup yang baik bagi usia lanjut.
Namun tanggung jawab terhadap lansia tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada negara. Keluarga tetap menjadi benteng utama penghormatan terhadap orang tua. Dalam budaya Indonesia maupun nilai-nilai agama, memuliakan orang tua bukan sekadar tradisi, tetapi kewajiban moral. Sayangnya, modernisasi sering membuat nilai itu perlahan memudar.
Kita juga perlu berhenti mengukur manusia hanya dari produktivitas ekonomi. Lansia mungkin tidak lagi kuat bekerja secara fisik, tetapi mereka menyimpan pengalaman hidup, kebijaksanaan, dan nilai-nilai yang sangat penting bagi generasi muda. Bangsa yang melupakan para lansianya adalah bangsa yang sedang memutus ingatan kolektifnya sendiri.
Hari Lansia Nasional semestinya tidak berhenti pada pembagian sembako, acara seremonial, atau unggahan ucapan di media sosial. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bersama bahwa setiap manusia, cepat atau lambat, akan memasuki fase usia tua. Cara kita memperlakukan lansia hari ini pada dasarnya adalah gambaran tentang bagaimana kita ingin diperlakukan di masa depan.
Maka menghormati lansia sejatinya bukan hanya tentang kepedulian sosial, tetapi tentang menjaga martabat kemanusiaan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, melainkan bangsa yang tetap memuliakan mereka yang telah menua..