.

Penanganan COVID-19 Butuh Terobosan,Sudah Saatnya Vaksin Nusantara Dipakai Massal

Caption : Terawan Agus Putranto selaku Ketua Tim Pengembang Vaksin Nusantara

JAKARTA.LENTERAJABAR.COM
,--Penanganan COVID-19 di Tanah Air membutuhkan terobosan seiring ancaman yang meningkat dari virus SARS-CoV-2. 

Baru saja, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan dampak virus corona varian Delta yang lebih menular. 

Menurut WHO, varian Delta yang telah muncul di 132 negara dan wilayah adalah peringatan bahwa virus ini berkembang cepat sehingga negara-negara perlu merespons lebih cepat sebelum varian yang lebih berbahaya muncul.

Di Indonesia, mutasi perkembangan varian virus corona bergerak jauh lebih cepat dari program vaksinasi yang dikerjakan pemerintah. Penularan yang terus-menerus di dalam negeri menjadikan Indonesia sebagai episentrum baru COVID-19 dan baru-baru ini mendapat stigma negara terburuk dalam penanganan pandemi dari media asing.

Kini, varian Delta Plus yang disebut lebih berbahaya sudah terdeteksi di sejumlah daerah. Walau belum cukup data, tetapi varian baru ini sangat dikhawatirkan bisa menurunkan efikasi vaksin yang selama ini dipakai Indonesia.

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, mengatakan, yang paling diwaspadai dari Delta Plus adalah membuat pengobatan bagi pasien COVID-19 semakin sulit.

Melihat situasi terakhir pandemi di dalam negeri, muncul desakan agar pemerintah membuat terobosan selain kampanye Protokol Kesehatan, pembatasan mobilitas dan program vaksinasi menggunakan vaksin yang sudah ada.

“Pemerintah harus membuat terobosan, dan terobosan itu ada di dalam negeri kita sendiri yaitu inovasi anak negeri berupa Vaksin Nusantara,” kata praktisi media yang juga salah satu pendiri Beranda Ruang Diskusi, Dar Edi Yoga, kepada wartawan, Senin (2/8/2021).

Menurut Yoga, selama ini pemerintah terkesan menghambat penelitian Vaksin Nusantara yang dirintis mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, Tak hanya menghambat, pemerintah juga terlihat menutup-nutupi kemanjurannya.

“Padahal, kalau mau jujur, sudah banyak eks pejabat negara dan bahkan pejabat negara saat ini yang sudah menerima Vaksin Nusantara. Beberapa dari mereka, berdasar informasi saya terima, mau membantu pengembangan Vaksin Nusantara,” ujar Yoga.

Memang, sejumlah tokoh nasional diketahui sudah menerima Vaksin Nusantara langsung dari tangan Dokter Terawan. 

Sebut saja mantan Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi; mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan; mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo; tokoh politik dan pengusaha nasional, Aburizal Bakrie; mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadillah; dan yang teranyar adalah Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko.

Sejumlah pimpinan dan anggota DPR RI periode 2019-2024 juga diberitakan sudah menerima Vaksin Nusantara, antara lain Sufmi Dasco Ahmad (Pimpinan DPR), Melkiades Laka Lena (Pimpinan Komisi IX), Saleh Partaonan Daulay (Anggota Komisi IX) dan Adian Napitupulu (Anggota Fraksi PDIP).

Bulan lalu, sebuah petisi bertajuk ”Survey Minat Gotong Royong Vaksin Nusantara” beredar untuk mendesak penghentian pengadaan impor vaksin dan mendukung Vaksin Nusantara untuk diproduksi massal dan gratis. 

Dar Edi Yoga berharap, dukungan yang konkret dari para tokoh nasional dan publik ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan dukungan kuat terhadap pengembangan Vaksin Nusantara. 

“Saya juga mendapat informasi bahwa sejumlah pengusaha berkenan memberikan dukungan kepada Dokter Terawan untuk memproduksi Vaksin Nusantara lebih banyak,” ucap Yoga. 

Dia bahkan mendengar informasi tentang negara kaya yang berminat membeli hak paten Vaksin Nusantara seharga triliunan rupiah, namun ditolak oleh Dokter Terawan. 

“Vaksin Nusantara bisa jadi terobosan di tengah meningkatnya ancaman virus corona dengan catatan pemerintah mau memberikan dukungan penuh. Saya yakini vaksin ini akan sangat menguntungkan buat rakyat dan negara kita,” jelas Yoga.

Vaksin Nusantara dibuat berbasis sel dendritik. Awalnya, pengembangan vaksin tersebut dipimpin Kementerian Kesehatan bersama tim peneliti Universitas Diponegoro.

Dalam sebuah kesempatan rapat kerja di DPR RI pada Maret lalu, Terawan Agus Putranto selaku Ketua Tim Pengembang Vaksin Nusantara, menegaskan bahwa Vaksin Nusantara yang berbasis sel dendritik sangat aman untuk digunakan.

Dia juga mengaku telah mengembangkan pengobatan dengan metode sel dendritik di Cell Cure Center RSPAD Gatot Soebroto Jakarta sejak 2015.

Menkes 2019-2020 itu tegaskan, vaksin berbasis dendritik sel untuk melawan virus corona bersifat autologous atau individual sehingga bisa dikatakan sangat aman.

Dia berharap pengembangan Vaksin Nusantara mendapat dukungan dari Kemenkes dan BPOM karena diyakini bisa menjadi alternatif bagi pasien COVID-19 dengan komorbid (penyakit penyerta) berat atau yang terkendala menggunakan vaksin-vaksin lain.**