KABUPATEN BABDUNG.LENTERAJABAR.COM,- Universitas Sangga Buana YPKP (USB YPKP) terus mendorong pemberdayaan masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satunya diwujudkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Penerapan Teknologi Budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk Pengolahan Sampah Organik dan Produksi Pakan Ternak pada Kelompok PASIMA Kelurahan Padasuka Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.”
Program yang dilaksanakan pada Juni–September 2026 ini menyasar Kelompok Padasuka Sirkular Mandiri (PASIMA) di RT 06 RW 09, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Melalui program ini, tim PKM USB YPKP berupaya memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah organik agar tidak hanya menjadi limbah, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya produktif yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.
Ketua Tim Pelaksana PKM, Anita Syafariah., SE., MM, menjelaskan bahwa budidaya maggot BSF merupakan salah satu alternatif pengelolaan sampah organik yang dapat menghubungkan kepentingan lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat agar mampu mengelola sampah organik secara lebih produktif. Sampah yang sebelumnya dipandang sebagai limbah dapat dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot, yang selanjutnya berpotensi menjadi bahan pakan ikan dan ternak,” demikian arah program yang dikembangkan oleh tim PKM USB YPKP.
Pelatihan dan Penerapan Teknologi untuk Kelompok PASIMA
Rangkaian kegiatan diawali dengan survei lapangan dan identifikasi kebutuhan mitra. Berdasarkan hasil pengamatan, Kelompok PASIMA telah memiliki inisiatif dalam pengelolaan sampah organik dan budidaya maggot. Namun, pengembangannya masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan sarana budidaya, pengendalian hama, teknologi pengolahan pascapanen, serta pengelolaan kegiatan kelompok secara berkelanjutan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim PKM memberikan pendampingan teknis melalui sosialisasi, persiapan sarana budidaya, penyiapan media organik, pengenalan siklus hidup lalat BSF, serta praktik awal penempatan bibit maggot.
Program ini juga diarahkan untuk memperkuat fasilitas kandang lalat BSF dan penerapan teknologi pengeringan maggot agar hasil budidaya berpeluang memiliki daya simpan dan nilai tambah yang lebih baik.
Salah satu kegiatan pelatihan dilaksanakan pada Sabtu, 5 September 2026, bertempat di lokasi budidaya maggot di lahan Sekolah Tinggi Bakti Asih Jl. Padasuka Atas No. 233, Padasuka, Cimenyan. Kegiatan ini dihadiri oleh Lurah Padasuka Bapak (Muchamad Fachla Hudaya Mimbar., S.IP), Direktur LPPM yang pada kesempatan ini diwakili oleh Kepala Bagian Penelitian (Dr. Adi Permana Sidiq), Kepala Bagian Pengabdian Kepada Masyarakat/PKM (Deden Rizal., SE., M.Si), beserta Ketua RW, Ketua RT, Kader PKK, Karang Taruna dan Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Bakti Asih.
Kegiatan tersebut meliputi paparan materi, praktik pengelolaan sampah organik dan budidaya maggot, diskusi, serta pengenalan potensi pengembangan produk olahan berbasis maggot.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan praktik langsung atau learning by doing.
Dengan pendekatan tersebut, anggota kelompok tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga berkesempatan memahami dan mempraktikkan tahapan awal budidaya maggot secara langsung.
Pada kesempatan ini juga, dilakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Aset berupa kandang maggot, rak kayu penyimpanan baskom maggot, baskom plastik dan poster edukasi pemilahan dan pengolahan sampah organik.
Dari Sampah Organik Menuju Ekonomi Sirkular
Program PKM ini mengusung semangat “Dari Organik Menjadi Ekonomik”. Semangat tersebut mencerminkan upaya mengubah pola pengelolaan sampah dari sekadar membuang menjadi memanfaatkan kembali sumber daya yang masih memiliki nilai guna.
Dalam konsep ekonomi sirkular yang dikembangkan, sampah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai bahan baku budidaya larva BSF.
Maggot yang dihasilkan berpotensi digunakan sebagai bahan pakan ikan dan ternak, sedangkan residu budidaya atau kasgot berpotensi dimanfaatkan lebih lanjut sebagai bahan pupuk organik.
Pendekatan ini membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terpadu. Selain mendukung pengurangan sampah organik, budidaya maggot juga berpotensi menjadi kegiatan ekonomi produktif apabila dikelola dengan baik, disertai pencatatan produksi, pembagian tugas, pemeliharaan sarana, serta pengembangan akses pemasaran.
Laporan kegiatan mencatat bahwa timbulan sampah di wilayah sasaran diperkirakan mencapai 25–50 kilogram per hari, dengan sebagian besar potensi pemanfaatan berasal dari sampah organik rumah tangga.
Data tersebut menjadi dasar penting bagi pengembangan kapasitas pengolahan sampah organik di wilayah tersebut.
Meski demikian, peningkatan kapasitas produksi dan nilai ekonomi masih memerlukan proses pemeliharaan, pemantauan pertumbuhan maggot, konsistensi pasokan bahan baku, serta penguatan manajemen kelompok.
Mendorong Kemandirian Masyarakat
Pelaksanaan program ini memberikan penguatan awal bagi anggota PASIMA dalam memahami pemanfaatan sampah organik, menyiapkan media budidaya, menggunakan sarana pendukung, dan menempatkan bibit maggot.
Kegiatan tersebut menjadi landasan bagi kelompok untuk melanjutkan budidaya secara lebih terarah dan mandiri.
Keberlanjutan program menjadi bagian penting dari pendampingan. Kelompok perlu menjaga kondisi media dan kandang, melakukan pemantauan pertumbuhan maggot, mengatur pembagian tugas, serta mencatat perkembangan produksi.
Langkah-langkah tersebut diperlukan agar kegiatan tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
Bagi USB YPKP, kegiatan ini merupakan bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, melalui penerapan pengetahuan dan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra.
Keterlibatan dosen dan mahasiswa juga menjadi ruang pembelajaran untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di masyarakat.
Melalui pengembangan PASIMA, program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi terbentuknya model pemberdayaan masyarakat berbasis pengelolaan sampah organik, budidaya maggot BSF, dan ekonomi sirkular yang dapat dikembangkan sesuai kondisi wilayah.
Dengan semangat “Dari Organik Menjadi Ekonomik”, USB YPKP bersama Kelompok PASIMA berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah yang tepat bukan hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang kegiatan produktif dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Tentang Program
Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan oleh tim Universitas Sangga Buana YPKP yang diketuai Anita Syafariah, kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dari beberapa program studi (D3 Keuangan dan Perbankan, Manajemen, Teknik Sipil, D3 Teknik Informatika, dan Ilmu Komunikasi) dengan mitra Kelompok Padasuka Sirkular Mandiri (PASIMA) di RT 06 RW 09, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.(red/***)
