KOTA BANDUNG.LENTERAJABAR.COM, - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, salah satu tujuan penataan halaman Gedung Sate yaitu agar aktivitas masyarakat bisa berlangsung lebih leluasa dan lancar. Penataan tersebut juga akan memperlancar lalu lintas depan Gedung Sate atau Jalan Diponegoro.
Dedi mengatakan, selama ini, aktivitas seperti demonstrasi di depan Gedung Sate kerap mengganggu lalu lintas. Jalan Diponegoro harus ditutup saat terjadi demonstrasi sehingga mengakibatkan kemacetan.
Terkait hal tersebut respon positif di sampaikan Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Ono Surono mendukung rencana penataan halaman Gedung Sate yang dinilainya bukan sekadar beautifikasi, melainkan upaya mengembalikan identitas Jawa Barat melalui simbolisasi penyatuan antara pemimpin dengan rakyatnya.
Ono menilai bahwa konsep yang ditawarkan pemerintah provinsi adalah mengembalikan fungsi historis kantor gubernur yang seharusnya menyatu dengan lapangan atau alun-alun, selaras dengan filosofi tata kota tradisional Sunda.
"Tadi disampaikan oleh gubernur itu kan mengembalikan fungsi Gedung Sate yang sebenarnya yang merupakan identitas Jawa Barat, identitas kesundaan. Di mana biasanya kantor gubernur harus menyatu dengan lapangan. Harus menyatu dengan alun-alun," ujar Ono saat ditemui usai Musrenbang di Gedung Pakuan Bandung, Rabu.
Hal senada di disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat,dari Fraksi Partai Gerindra Maula Akbar Mulyadi Putra, S.I.Pol dengan menyatukan ruang publik tersebut,keterbukaan akses antara kantor pemerintahan dan area publik memiliki makna filosofis yang dalam bagi demokrasi di Jawa Barat. Ia melihat hal tersebut sebagai langkah untuk menghilangkan presepsi sekat antara birokrasi dan masyarakat.
"Simbolisasinya itu kan kantor gubernur dan lapangan itu menjadi sarana bertemunya antara rakyat dengan para pemimpinnya.Penataan halaman Gedung Sate juga akan menambah estetika area tersebut.
Revitalisasi ini, akan mengintegrasikan kawasan dengan menghubungkan Plaza depan Gedung Sate, koridor Jalan Diponegoro, hingga Lapangan Gasibu sebagai satu sumbu utama seluas 14.642 meter persegi.
revitalisasi ini ingin menegaskan peran Gedung Sate sebagai center point Jawa Barat yang selama ini dianggap tertutup oleh bangunan tinggi di sekitar Gasibu.Nantinya setelah pengerjaan selesai lokasi upacara kenegaraan dari Gasibu ke halaman depan Gedung Sate demi menjaga "aura" kewibawaan pusat pemerintahan.
Merujuk data dari Biro Umum Setda Provinsi Jawa Barat, Proyek yang dijadwalkan berlangsung dari 8 April hingga 6 Agustus 2026 ini juga mencakup penataan pedestrian dan elemen ruang terbuka publik yang merepresentasikan identitas budaya Jawa Barat.(Red/AdPar)
