
Caption : Kepala Bekangdam III/Siliwangi, Kolonel Cba Faryan Noversyah P.P.Y., S.Sos., CHMRP., saat menjadi narasumber pada Basa Basi Podcast PWI Kota Bandung, Jumat (30/1/2026)
Langkah cepat TNI AD melalui Bekangdam III/Siliwangi ini merupakan tindak lanjut atas perintah langsung Panglima Kodam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih dalam penanganan darurat bencana longsor Cisarua.
Kepala Bekangdam III/Siliwangi, Kolonel Cba Faryan Noversyah P.P.Y., S.Sos., CHMRP., mengatakan pihaknya langsung menurunkan personel ke lokasi untuk memastikan distribusi logistik dan dukungan hidup berjalan optimal.
Pernyataan tersebut disampaikan Kolonel Faryan saat menjadi narasumber Basa Basi Podcast PWI Kota Bandung, Jumat (30/1/2026).
TNI AD Dirikan Posko dan Dapur Umum di Lokasi Longsor Cisarua
Di lokasi bencana longsor Cisarua, Bekangdam III/Siliwangi mendirikan posko atau markas lapangan yang berfungsi sebagai pusat komando sekaligus tempat tinggal sementara personel. Selain itu, dapur umum lapangan TNI dan MCK darurat turut digelar untuk mendukung kebutuhan para pengungsi.
“Kami membawa logistik dari home base untuk kebutuhan awal tiga sampai lima hari, karena kami mengantisipasi keterbatasan akses dan pasokan di lokasi bencana,” ujar Kolonel Faryan.
Dapur Umum Bekangdam Produksi Hingga 1.100 Porsi per Hari
Operasional dapur umum Bekangdam III/Siliwangi mampu beradaptasi dengan meningkatnya jumlah pengungsi longsor Cisarua. Dengan dukungan sekitar 50 personel, dapur lapangan mampu memproduksi hingga 500 porsi dalam sekali masak.
“Pada hari pertama kami menyiapkan 300 porsi, hari kedua 600 porsi, dan pada hari-hari berikutnya pernah mencapai 1.100 porsi per hari,” kata Faryan.
Data jumlah pengungsi, lanjutnya, diperoleh melalui koordinasi dengan Kodim setempat agar distribusi bantuan korban longsor Bandung Barat tepat sasaran.
Menu Bergizi untuk Pengungsi Longsor Bandung Barat
Tim dapur lapangan Bekangdam III/Siliwangi diorganisasi secara terstruktur, mulai dari pengolahan bahan, memasak, pengemasan, hingga distribusi makanan kepada pengungsi.
“Personel kami sudah terlatih dan siap memasak berbagai menu,” tegas Kolonel Faryan.
Menu yang disajikan antara lain Sapi Lada Hitam dan Ayam Rica-rica, dengan bahan baku yang berasal dari bantuan Dinas Sosial.
Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan Penanganan Bencana
Kolonel Faryan mengungkapkan, tantangan utama dalam penanganan bencana longsor Cisarua adalah kondisi cuaca ekstrem. Hujan yang hampir turun setiap hari membuat tim harus lebih disiplin menjaga kualitas dan keamanan makanan.
“Kondisi basah dan lembap menuntut kami ekstra menjaga kualitas makanan, termasuk menyesuaikan tingkat kepedasan demi kesehatan pengungsi,” ujarnya.
Meski telah memasuki hari keenam operasi, Faryan memastikan seluruh kendala dapat diatasi dengan baik. Ia juga menekankan kuatnya sinergi TNI AD, Basarnas, dan unsur pemerintah daerah dalam penanganan darurat bencana di Bandung Barat.
“Semua pihak saling membantu sesuai peran dan kapasitas masing-masing,” pungkasnya.**