
Caption : Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat H.Raden Tedi ST,MM
BANDUNG.LENTERAJABAR.COM,- Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat H.Raden Tedi ST,MM , menyampaikan pandangannya terkait jawaban Gubernur atas pandangan fraksi-fraksi dalam pembahasan KUA-PPAS APBD Tahun Anggaran 2026.
Kang Tedi sapaan akrab Politisi senior partai berlambang matahari putih dengan 32 pancaran sinar ini. menekankan pentingnya sinergi antara eksekutif dan legislatif dalam memanfaatkan sumber daya anggaran demi kemaslahatan masyarakat Jawa Barat.
Lebih lanjut dikatakan legislator PAN ini. Jawaban Gubernur melalui Sekda tadi akan kita cross check dalam pembahasan APBD minggu depan. Ini momentum penting untuk memastikan sinergi kelembagaan berjalan optimal, tutur wakil rakyat dari daerah pemilihan Jabar XI meliputi Kab. Sumedang, Kab. Majalengka dan Kab Subang (SMS).
Anggota Badan Anggaran DPRD Provinsi Jawa Barat mengakui bahwa tahun 2026 akan menjadi masa yang menantang, terutama bagi ASN. Ia menyebutkan bahwa perjalanan dinas luar provinsi telah ditiadakan dan tunjangan perumahan diturunkan sebagai bagian dari langkah efisiensi. Namun, ia menegaskan bahwa pembangunan tetap harus berjalan.
Menurut legislator yang membidangi pembangunan ini,“Kita butuh sinergi antara RPJMD Jawa Barat dan RPJMN nasional, terutama dalam pelaksanaan proyek strategis nasional,” tutur mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah ini..
Kanh Tedi juga menyoroti potensi Bandara Internasional Kertajati yang saat ini masih merugi. Ia mendorong agar Kertajati dikembangkan sebagai pusat perawatan dan perbengkelan pesawat, termasuk pesawat tempur TNI AU, serta menjadi bandara kargo yang terintegrasi dengan Pelabuhan Patimban dan kawasan industri Segitiga Rebana.
“Kalau konektivitas jalan tol dan rel kereta dari Bandung ke kawasan industri dan pelabuhan dibangun, maka akan muncul pusat industri baru di luar Jabodetabek,tuturnya seraya. menambahkan bahwa biaya logistik ekspor dari kawasan Rebana ke pelabuhan seperti Patimban jauh lebih murah dibandingkan dari Karawang ke Tanjung Priok. Hal ini akan mendorong relokasi industri dan investasi baru.
Selain itu banyaknya trase jalan tol PSN di Jawa Barat yang belum selesai pembebasan lahannya. Ia mendorong percepatan agar kawasan-kawasan yang dilewati dapat bangkit secara ekonomi dan menyerap tenaga kerja.
Penduduk Jawa Barat lebih dari 50 juta jiwa, kita harus dorong proyek dari APBD, APBN, PSN, dan swasta untuk menyerap angkatan kerja, Kang Tedi juga menekankan pentingnya mengatasi disparitas antara wilayah utara dan selatan Jawa Barat melalui investasi belanja modal dan proyek strategis. Salah satunya adalah pembangunan double track kereta dan konektivitas tol dari Bogor ke Sukabumi hingga Pelabuhan Ratu.
“Kalau Pelabuhan Ratu terkoneksi, bisa jadi destinasi wisata unggulan seperti Pangandaran yang kini mudah diakses lewat tol, dengan harapan agar seluruh proyek strategis nasional di Jawa Barat segera dieksekusi.
Ditambahkannya pembangunan proyek-proyek tersebut membawa efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan pembukaan wilayah industri baru.
“Kita ingin percepatan. Karena proyek strategis ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi soal masa depan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat,” pungkas Raden Tedi.(Red/Adpar)