GARUT.LENTERAJABAR.COM, -- Laboratorium Pelatihan Program Bangga Kencana pertama di Indonesia diresmikan di Kampung Curug Pesantren, Desa Karyasari, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Fasilitas yang dibangun melalui kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN, Pemerintah Kabupaten Garut, Pemerintah Desa Karyasari, serta Rumah Amal Salman ITB ini diharapkan menjadi percontohan nasional dalam pengembangan pelatihan pemberdayaan masyarakat dan percepatan penurunan stunting.
Peresmian dihadiri Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, bersama Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi, Kepala Balai Diklat KKB Garut, Tohirin Hasan, serta Ketua Yayasan dan Direktur Rumah Amal Salman ITB.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Garut menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun dalam pengembangan laboratorium pelatihan ini. Ia menilai keberadaan fasilitas ini menjadi langkah maju dalam mendukung ketahanan keluarga serta peningkatan kapasitas masyarakat.
“Saya berharap ini berkelanjutan terus dan dicontoh oleh desa-desa lain,” ujarnya.
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi, menegaskan bahwa laboratorium ini merupakan yang pertama di Indonesia dalam implementasi program Bangga Kencana.
"Kita harapkan ini menjadi episentrum pendidikan dan pelatihan. Tempat belajar dari berbagai kementerian/lembaga serta stakeholder dalam pembangunan keluarga di Indonesia," urainya.
Lebih lanjut dirinya menyoroti penurunan prevalensi stunting di Jawa Barat yang kini berada pada posisi 15,9 persen. Di Garut, angkanya turun menjadi 14 persen sehingga dinilai layak menjadi lokasi studi banding bagi daerah lain. Menurutnya, laboratorium ini dapat mendukung praktik terbaik melalui integrasi pertanian organik, budidaya ikan, hingga pemanfaatan hasil panen untuk membantu keluarga berisiko stunting.
Inisiator dan pengelola laboratorium, Tohirin Hasan menambahkan bahwa pelatihan tidak lagi terbatas pada kelas, tetapi dapat langsung berada di tengah masyarakat.
“Ini benar-benar kembali ke alam, melakukan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat," tegasnya.
Dari pemerintah desa, Kepala Desa Karyasari, Gaya Mulyana, menyampaikan bahwa pihaknya mendukung penuh program ini dan siap menjadikannya model bagi desa-desa lain di Garut. Ia menuturkan bahwa keberadaan budidaya nila dan sayuran merupakan hasil koordinasi pemerintah desa bersama Rumah Amal Salman, yang diprakarsai oleh tokoh masyarakat setempat.
“Mudah-mudahan ke depan ini menjadi pilot project untuk semua wilayah, terutama desa-desa di Kabupaten Garut, dalam pengembangan SDM dan pelatihan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Direktur Rumah Amal Salman ITB, Syachrial menjelaskan bahwa kolaborasi ini diharapkan dapat berjalan jangka panjang melalui peran berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, perusahaan lokal, dan masyarakat.
“Harapannya ini jadi laboratorium nyata, tempat bertemu langsung dengan persoalan stunting, perangkat desa, dan akademisi. Ini jadi tempat kolaborasi yang hidup,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Rumah Amal Salman telah bekerja sama dengan pesantren selama 10 tahun untuk pemanfaatan lahan tersebut. Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan inovasi berkelanjutan.
“Semoga bisa diduplikasi, meskipun tiap wilayah berbeda. Kami di Rumah Amal siap mendampingi dengan dukungan ahli ITB dan mahasiswa untuk menyesuaikan kebutuhan dan potensi wilayah,” ujarnya.
Peresmian ini menandai langkah penting bagi Garut sebagai daerah percontohan dalam integrasi program Bangga Kencana, penguatan ketahanan pangan keluarga, serta strategi percepatan penurunan stunting melalui pendekatan kolaborasi pentahelix.(red/**)
