.

Pandemi COVID-19 Jadikan 5.624 Anak di Jabar Yatim dan Piatu

Caption : Kepala DP3AKB Jabar I Gusti Agung Kim Wiyati Oka saat memberikan bantuan kepada anak yatim karena orang tuanya meninggal akibat pandemi COVID-19 di Majalengka.

MAJALENGKA.LENTERAJABAR.COM
,-Pandemi COVID-19 berdampak terhadap sektor kehidupan sosial masyarakat seperti banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK),bertambahnya orang miskin baru dan banyak orang meninggal dunia berdasarkan data di Provinsi Jawa Barat sebanyak 5.624 anak menjadi yatim dan piatu.karena orang tua mereka meninggal akibat positif terpapar COVID-19. Menyikapi kondisi tersebut sudah sepatutnya pemerintah turun tangan untuk masa depan mereka,baik dari sisi ekonomi maupun pendidikan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jabar I Gusti Agung Kim Fajar Wiyati Oka mengatakan, sebagian dari mereka bahkan ada yang berstatus sebagai yatim-piatu, lantaran kedua orang tuanya meninggal. Kota Bekasi diketahui sebagai daerah dengan jumlah anak yatim korban Covid paling banyak di Jabar.

“Anak yang ditinggal orang tuanya itu 5.624 orang, tapi datanya ini terus bergerak atau bersifat sementara. Ada yang meninggal ibunya, ada yang meninggal bapaknya, ada juga keduanya. Sampai saat ini yang paling banyak itu kota Bekasi, hampir 911 anak,” kata Kepala DP3AKB Jabar saat pemberian santunan kepada anak yatim korban Covid di Aula Kecamatan Majalengka, Sabtu (4//2021).

Sebagai bentuk kepedulian, ujar Kim Agung, sapaan akrab Kepala DP3AKB Jabar, pemerintah dan Pemprov Jabar mencoba menggalang dana lewat sejumlah program. Mapai Lembur dan ASN Jabar Peduli adalah dua program yang dalam pelaksanaannya menyalurkan santunan yang diberikan kepada anak yatim korban Covid terdiri dari paket sembako dan uang tunai.

“Semua dinas di provinsi dibagi menjadi LO di masing-masing kabupaten/kota, kebetulan kami, DP3AKB di Majalengka. Kebetulan juga kami ada program Mapai Lembur, ASN Jabar peduli. Jadi kami dari ASN mengumpulkan, ya sekadarnya bisa dibagikan kepada masyarakat. Ini semuanya bergerak ke seluruh Jawa Barat,” ujar Kim Agung.

Kim Agung menurutkan, DP3AKB Jabar memiliki tugas dan fungsi memberikan perlindungan kepada anak. "Jadi di sini memberikan sedikit perhatian kepada anak-anak yang menjadi yatim, piatu, ataupun menjadi yatim-piatu yang orang tuanya meninggal karena Covid. Kami ingin memastikan juga dengan pemerintah daerah bekerjasama agar memastikan pengasuh mereka itu diasuh dengan baik,” tuturnya. Sampai saat ini, kata Kim, sebagian besar mereka berstatus sebagai anak yatim karena ayahnya meninggal. Adapun jumlah anak anak yatim-piatu (ayah ibu meninggal dunia), relatif sedikit.

Ditambahkannya yang paling banyak sampai saat ini yang menjadi yatim, kemudian piatu. Yang yatim-piatu itu masih rendah. Kami belum (bisa) memastikan berapa persen jumlah anak yang yatim-piatu,jelas Kim. “Ini juga tentu tidak oleh dinas kami sendiri, tapi juga dengan dinas-dinas lain. Seperti Dinsos itu mereka akan menindaklanjuti juga dengan program-program yang ada. Pendidikan, mereka itu oleh dinas pendidikan, bagaimana anak-anak ini bisa mewujudkan cita-cita nya,”pungkasnya.(Red/*)