.

Jabar Lakukan Kesiapan Pusat Isolasi dan Laboratorium

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jabar yang juga Ketua Divisi  Pelacakan, Pengujian, dan Manajemen Laboratorium Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar, Siska Gerfianti,


BANDUNG.LENTERAJABAR.COM,--Pelacakan dan pengetesan COVID-19 di instansi pemerintahan dan perkantoran intens dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar). Tujuannya mencegah penularan COVID-19 di tempat kerja. 

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jabar yang juga Ketua Divisi  Pelacakan, Pengujian, dan Manajemen Laboratorium Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar, Siska Gerfianti, mengatakan, selain memutus mata rantai, pelacakan dan pengetesan dilakukan untuk memetakan keberadaan SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. 

Pelacakan dan pengetesan disertai dengan penguatan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dan laboratorium. 

Pemda Provinsi Jabar intens menginventarisasi pusat isolasi di luar rumah sakit guna menghadapi lonjakan kasus positif COVID-19 seiring konsistensi pengetesan. 

Jumlah tempat tidur di pusat isolasi nonrumah sakit yang terhimpun di kabupaten/kota per tanggal 3 Agustus 2020 adalah 1.510 tempat tidur, sudah termasuk gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jabar. Tingkat keterisian pusat isolasi nonrumah sakit hanya 16,21 persen. 

Selain itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil pada Senin (3/8/2020) di Makodam III/Siliwangi, Kota Bandung, melaporkan, tingkat keterisian rumah sakit di Jabar hanya 28 persen. 

Siska mengatakan, upaya tersebut dilakukan Pemda Provinsi Jabar sebagai kesiapsiagaan. "Jadi untuk semua terkonfirmasi positif tapi tanpa gejala kita sudah siapkan BPSDM untuk menampung. Kita juga siapkan jejaring rumah sakitnya," kata Siska. 

Penguatan kesiapan laboratorium pun dilakukan, supaya pelacakan dan pengetesan berjalan optimal. Penanggungjawab Labkes Provinsi Jabar Ryan B Ristandi menyatakan, kemampuan pengetesan Labkes Provinsi Jabar per hari berada di angka 1.500-2.000 sampel.

"Kami tetap melakukan pembagian jadwal dengan 3 sif dengan kami ada kurang lebih 70 karyawan berkolaborasi Labkes Jabar dengan ITB," kata Ryan. 

Pemda Provinsi Jabar konsisten meningkatkan kapasitas pengetesan dengan menyiapkan laboratorium satelit. Terdapat 28 laboratorium satelit yang tersebar di sejumlah daerah di Jabar.

Ryan memastikan ketersediaan reagen ekstraksi dan PCR. Menurut ia, reagen yang tersedia dapat mengetes sekitar 250 ribu sampel. Reagen ekstraksi dan PCR pun disebar ke 27 kabupaten/kota. 

"Sedikit hambatan di bahan habis pakai saja," ucapnya. "Di bulan Agustus ini kami ada program di Labkes untuk melaksanakan tes PCR di 27 kabupaten/kota dengan target 105 ribu sampel. Itu akan disebar di 27 kab/kota dan disebar di 28 laboratorium satelit," imbuhnya.

Hasil tes akan keluar dalam waktu 2-3 hari. Ryan mengimbau kepada masyarakat yang menjalani swab test untuk mengisolasi diri mandiri selama hasil tes belum keluar. Hal tersebut dilakukan supaya hasil tes akurat.

"Pada saat masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan setelah dilakukan swab, yang kami takutkan adalah masyarakat terpapar COVID-19. Jadi, hasil tes tidak lagi akurat," katanya. (Rie/Red)