Notification

×

Iklan

Iklan

Pentingnya Sosialisasi dalam Pembatasan Sosial Berskala Mikro

Kamis, 11 Juni 2020 | 19:58 WIB Last Updated 2020-06-11T12:58:07Z
Koordinator Sub Divisi Deteksi Dini dan Pelacakan Kontak Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi

BANDUNG.LENTERAJABAR.COM, -- Sosialiasi amat krusial dalam Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) atau penanganan COVID-19 tingkat desa/kelurahan, karena mampu menumbuhkan komitmen masyarakat untuk memutus sebaran SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. 

Koordinator Sub Divisi Deteksi Dini dan Pelacakan Kontak Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi mengatakan, penolakan masyarakat terhadap PSBM sempat terjadi karena pemahaman yang kurang. 

"Edukasi kepada masyarakat perlu, supaya kemudian masyarakat bisa menerima kondisi, COVID-19 itu bukan suatu aib, tetapi hal yang harus diselesaikan bersama-sama," kata Dedi dalam jumpa pers di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (11/6/2020). 

PSBM, yang merupakan program Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar dalam menanggulangi COVID-19, sudah diterapkan di desa/kelurahan yang tersebar di 6 kabupaten/kota, yakni Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Subang, Kota Tasikmalaya, Kota Cimahi, dan Kota Bogor. 

Dedi mengatakan, penguatan koordinasi antara gugus tugas provinsi, kabupaten/kota, aparatur desa, dan tokoh masyarakat, diperlukan agar sosialiasi berjalan optimal. 

"Betapa masyarakat menolak untuk melakukan PSBM. Jangankan PSBM, swab test aja tidak mau. Karena pemahaman dan pengetahuan masyarakat terkait COVID-19 dan isolasi mandiri terbatas," ucapnya. 

Hal senada dikatakan tokoh masyarakat Desa Tanimulya, Kabupaten Bandung Barat, Wiyoto, yang daerahnya telah menjalani PSBM. Menurut ia, penolakan hadir karena ketakutan dan ketidaktahuan masyarakat soal COVID-19. Desa Tanimulya menjalani PSBM setelah seorang warganya dinyatakan positif COVID-19. 

"Ada rasa cemas karena melihat tokoh masyarakat, pimpinan, panutan warganya dibawa (karena positif COVID-19). Luar biasa kagetnya sampai-sampai masyarakat banyak yang tidak percaya," katanya. 

Rasa cemas itu perlahan hilang seiring dengan sosialiasi yang dilakukan semua pihak. Hal itu terlihat dari keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan tes usap untuk melokalisir pasien positif beserta kontak tracing.

Tercatat, sebanyak 291 warga Desa Tanimulya melaksanakan tes usap. Hasilnya, tidak ada warga yang dinyatakan positif COVID-19.

"Semua merasakan bahwa tidak ada yang perlu ditakuti karena sampai dengan kemarin, dengan kejadian itu, warga kami tidak ada yang positif, dan warga positif sudah dinyatakan sembuh," kata Wiyoto. 

Dedi mengatakan, PSBM akan menjadi pertimbangan guna menyiapkan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di Jabar. Sebelum masyarakat kembali berkegiatan, mereka harus dipastikan tidak membawa virus SARS-CoV-2 atau terindikasi COVID-19. 

"Saat masyarakat diberikan keleluasaan untuk bergerak ke pasar, ke kantor, dan sebagainya, pemerintah harus pastikan orang yang bekerja, ke sekolah, dan bepergian, itu tidak ada orang positif dan suspeknya," katanya.

Selain pelacakan, PSBM pun disertai dengan pembatasan aktivitas, peningkatan pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan, pemantauan kesehatan, sterilisasi rumah, fasilitas sosial, dan fasilitas umum, serta pengawasan orang masuk dan keluar di daerah tersebut.(Rie/Rel)
×
Berita Terbaru Update