.

Komisi I DPRD Jabar Terima Aspirasi GMBI Soal Kinerja Gubernur Ridwan Kamil

BANDUNG,LENTERAJABAR.COM,-Komisi I DPRD Jabar menerima audensi LSM GMBI,pada kesempatan tersebut GMBI membeberkan sejumlah program Gubernur, Ridwan Kamil yang di nilai malah merugikan keuangan negara, sehingga mendesak DPRD Jabar menggunakan hak interpelasinya.

Menurut anggota Komisi I DPRD Jabar, Rafael  Situmorang SH, pihaknya akan mempelajari apakah aspirasi masyarakat yang disuarakan GMBI bisa menjadi bahan interpelasi. Kalau memang cukup alasan, menurut Rafael, bukan hal tabu untuk menggunakan hak interpelasi,kata politisi PDIP ini di Gedung Dewan Jalan Diponegoro no 27 Kota Bandung.Kamis(28/11/2019)

“Sebelumnya ada penertiban aset dari Pemprov, dan itu kami dorong bahwa aset-aset daerah harus dikuatkan, tapi syaratnya jangan sampai ternyata aset tersebut milik orang lain. Prinsipnya kita amankan aset, tapi jangan tabrak aset orang lain,” ujar Rafael.

Terkait helikopter, Rafael mengatakan, akan mempelajari dan mengecek di lapangan. Soal kolam renang, Rafael pun menilai tidak diperlukan. “Makanya nanti harus ada perbaikan pembahasan APBD. Seharusnya membahas   APBD sampai kesatuan tiga sampai detail peruntukannya. “Tapi ini masih gelondongan,” ujar Rafael.

Sementara itu soal pengadaan mobil Maskara, lanjut Rafael, secara prinsip programnya baik, tapi di lapangan ternyata pengadaannya bermasalah.

Anggota Komisi I DPRD Jabar, Ridwan Solichin S IP M Si mengatakan hak interpelasi minimal ada 13 anggota dewan yang mengusulkan. “Kalau di PKS kami sudah membuat penanggung jawab hak untuk interpelasi. Bahkan, penanggung jawab ini bertugas mencari data bahan yang bisa menguatkan,” ujarnya.

Sebelumnya Ketua Umum LSM GMBI, Moh Fauzan Rachman mengatakan, pelanggaran yang dilakukan Emil, pertama, masalah Gunung Sembung yang menciptakan Aparatur Sipil Negara (ASN) Provinsi Jabar menjadi mafia tanah, sehingga terjadi korupsi terhadap lahan yang disewakan, dan uangnya tidak disetorkan ke kas daerah Provinsi Jabar.

Kedua, ada kelalaian pemerintah yang membiarkan masyarakat Jabar terdzalimi oleh PT Kereta Api Cepat   Indonesia China (KCIC) di Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur.

Tiga, pengamburan anggaran   oleh   gubernur, yakni pembuatan kolam renang yang akan menghabiskan anggaran Rp 1,5 miliar.

Empat, juga terjadi pengamburan anggaran dalam perjalanan   dinas   gubernur   yang   menggunakan   helikopter. Fauzan mempertanyakan,  sewa atau  milik. Kalau sewa berapa  biayanya dan kalau milik dari mana asal usulnya.

Lima, pengadaan mobil Aspirasi Kampung Juara (Maskara) dengan pagu anggaran Rp 44 miliar. GMBI menemukan kerugian negara Rp 5 miliar.

Fauzan juga meminta Tim Akselerasi Pembangunan (TAP) dibubarkan, karena terjadi praktik nepotisme yang melibatkan adik kandung Ridwan Kamil.

Jika TAP ini dipertahankan, kata Fauzan, dikhawatirkan bakal terjadi kerugian negara. “Hal ini seperti yang terjadi pada era Ahmad Heryawan yang membubarkan dan mengembalikan uang gaji mereka,” pungkas Fauzan.(Rie/Rel)