Notification

×

Iklan

Iklan

Pesan Wagub Erwan Saat Peringatan Harganas ke-33 Tingkat Jabar : “Ayah Wajib Hadir”

Senin, 29 Juni 2026 | 17:15 WIB Last Updated 2026-06-29T10:30:35Z

Caption : Wagub Jabar, H. Erwan Setiawan saat sampaikan pidato Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Wihaji pada Upacara Peringatan HARGANAS ke-33 tingkat Provinsi Jawa Barat di Area Barat Stadion, Sport Jabar Arcamanik Kota Bandung, Senin, (29/06/2026).


KOTA BANDUNG.LENTERAJABAR.COM
, - Wakil Gubernur Jawa Barat (Wagub Jabar), H. Erwan Setiawan sampaikan pidato Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Wihaji pada Upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33 tingkat Provinsi Jawa Barat di Area Barat Stadion, Sport Jabar Arcamanik Kota Bandung, Senin, (29/06/2026).


Wagub Erwan menegaskan, peringatan HARGANAS ke-33 bukan sekadar baris tanggal di kalender tahunan yang kerap diperingati dengan berbagai seremonial. Lebih dari itu, hari ini adalah momentum refleksi, yakni sebuah jeda kultural untuk kita semua agar menengok kembali ke dalam rumah kita masing-masing. 


Memeriksa kembali pilar-pilar penyangga domestik kita, dan bertanya pada diri kita sendiri, sudahkah keluarga kita menjadi tempat bernaung yang aman, tangguh, dan siap melahirkan generasi pemenang?


"Ya, kita berdiri di sebuah panggung peradaban modern yang bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia. 


Para ahli menyebut zaman ini sebagai Era VUCA yakni, sebuah lanskap global yang dicirikan oleh Volatility (gejolak perubahan yang begitu cepat), Uncertainty (ketidakpastian yang tinggi), Complexity (kerumitan masalah yang saling bertautan), dan Ambiguity (kebingungan arah). 


Di era VUCA ini, tantangan yang dihadapi oleh sebuah keluarga bukan lagi sekadar tantangan konvensional pemenuhan kebutuhan fisik semata. 


Hari ini, tantangan ekonomi makro, disrupsi teknologi digital yang radikal, pergeseran nilai-nilai sosial, hingga ancaman siber, masuk secara langsung dan tanpa permisi ke ruang-ruang keluarga melalui gawai yang ada di genggaman anak-anak kita," 


Ia melanjutkan, jika institusi keluarga rapuh, jika ketahanan domestik keropos, maka arus zaman yang serba tidak menentu itu akan dengan sangat mudah menggilas masa depan anak-anak, memecah belah keharmonisan suami istri, dan menghancurkan tatanan moral generasi penerus. 


Oleh karena itu, ketangguhan keluarga bukanlah sebuah pilihan alternatif yang bisa di tunda-tunda. Ketangguhan keluarga adalah sebuah keharusan mutlak, sebuah urgensi nasional yang tidak boleh ditawar lagi jika ingin bangsa ini tetap berdiri tegak di tengah badai perubahan global. 

Caption : Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi,Wagub Jabar, H. Erwan Setiawan  dan Kepala DP3AKB Jabar Siska Gerfianti,


"Ketangguhan keluarga memiliki korelasi linear dan mutlak dengan masa depan geopolitik dan geoekonomi Indonesia. 


Senada dengan hal tersebut, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi, menyampaikan tema peringatan Harganas kali ini adalah “Ayah Wajib Hadir”. Menurutnya selain upacara peringatan yang dilaksanakan pagi ini, 


“Linier dengan tema peringatan Harganas, kita juga ada Gerakan Ayah Mengambil Raport (GEMAR), kemudian nanti di awal tahun ajaran baru juga ada Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS)”, ungkap Dadi. 


“Kita ingin para ayah berperan lebih dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Jangan sampai ayah itu bisanya hanya transfer uang dan hadir secara fisik saja,” tambahnya. 


Berdasarkan hasil Pemutakhiran PK-25, satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia atau sebesar 25,8 % tahun 2025 mengalami FATHERLESS. Sedangkan di Jawa Barat, angkanya sebesar 29,5%. 


Fenomena fatherless di Jawa Barat (29,5 persen) memiliki karakter yang berbeda. Sebagai provinsi berpenduduk terbesar dan kawasan industri utama, Jawa Barat menghadapi tekanan kehidupan urban dan industrialisasi. Banyak ayah yang harus bekerja di luar kota, dengan jam kerja panjang, atau tinggal di kawasan industri yang jauh dari tempat tinggal keluarga. Selain itu, gaya hidup modern yang serba cepat membuat waktu interaksi keluarga semakin berkurang. Dalam konteks ini, fatherless di Jawa Barat bukan semata akibat ketiadaan fisik, melainkan ketidakhadiran emosional.(red/***)

×
Berita Terbaru Update