.

Hasil Jagung Sindangbarang Cianjur Mampu Dijual hingga Jateng dan Jatim


CIANJUR.LENTERAJABAR.COM
, - Potensi perekonomian khususnya sektor pertanian di wilayah Jawa Barat Selatan sangat besar untuk terus dikembangkan, seperti halnya di Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur. 

Pertanian di wilayah Sindangbarang masih mendominasi dibandingkan dengan sektor lainnya, sekitar 90 persen masyarakatnya merupakan petani padi, jagung, maupun kacang-kacangan. 

Camat Sindangbarang Indra Sunggara mengatakan, sejumlah hasil pertanian dari Sidangbarang sudah dijual ke beberapa wilayah di luar Provinsi Jabar, seperti jagung dijual ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Selain itu, kacang tanah Sindangbarang juga memasok sejumlah perusahaan besar yang ada di Indonesia. 

“Kualitas jagung dan kacang tanah dari wilayah ini cukup bagus dan layak untuk dijual ke luar,” kata Indra, di Kantor Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Rabu . 

Menurut Indra, kacang tanah dari Sindangbarang akan menjadi salah satu komoditas unggulan yang akan terus dikembangkan. 

Berdasarkan hasil penelitian yag dilakukan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, kualitas kacang tanah dari Sindangbarang sangat bagus, berbeda dengan kacang tanah dari daerah lain. 

“Kacang tanah dari sini lebih pulen, mungkin karena ditanam di pesisir pantai. Kita olah juga menjadi minyak kacang tanah,” ujar Indra. 

“Ini yang akan kita jadikan komoditas unggulan. Ke depannya mudah-mudahan bisa diekspor karena hasil dan kualitasnya bagus,” imbuhnya. 

Indra mengungkapkan, kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) masih menjadi salah satu hambatan yang dihadapi untuk mengembangkan komoditas, khususnya bidang pertanian di Sindangbarang. 

“Petani itu masih ikut-ikutan, jadi kalau musim jagung ikut menanam jagung. Belum ada yang fokus ke kacang tanah. Padahal jika fokus itu dapat meningkatkan hasil pertaniannya,” ujarnya. 

Guna meningkatkan SDM, pihaknya akan melakukan  kerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, maupun Kementerian Pertanian. 

“Supaya ada program-program pelatihan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas dari komoditas. Misalkan kacang tak hanya menghasilkan minyak saja, tapi ke depan bisa dibuat apa saja yang lebih kreatif. Saya pikir itu yang bisa diangkat ke depannya,” tambahnya.

Program Petani Milenial 

Indra memaparkan, selain akan meningkatkan SDM yang ada, untuk menyambut Program Petani Milenial Pemda Provinsi Jabar, pihaknya sudah melakukan pendataan tanah-tanah milik desa yang tidak produktif untuk bisa dimaksimalkan keberadaannya. 

“Lahan tersebut nantinya bisa digunakan untuk pertanian yang menjadi unggulan kita,” tegasnya. 

Selain sektor pertanian, sektor perikanan di wilayah Sindangbarang pun terus dikembangkan, di antaranya budi daya udang. 

“Perikanan  di wilayah ini banyak lokasinya, di antaranya di Jayanti.  Di sini ada pula tambak udang tersebar di empat titik, yakni di Hegarsari, Pasir Dudukuy, juga terdapat di lahan milik TNI AU di Cikalapa, serta di Makalaksana. Semuanya menjadi potensi untuk investor masuk,” terang Indra. 

Dengan luas wilayah mencapai 16.000 haktare, serta jumlah penduduk 55.000 jiwa, Kecamatan Sindangbarang direncanakan menjadi ibu kota Cianjur Selatan, jika pemekaran wilayah disetujui oleh Pemerintah Pusat. 

Terkait dengan Program Petani Milenial, Pemda Provinsi Jabar tahun ini kembali membuka pendaftaran untuk Angkatan II, yang akan berkolaborasi dengan 27 Kabupaten/ Kota. 

Dalam program ini Pemda Provinsi Jabar memberikan pelatihan, dukungan anggaran, lahan, teknologi pengolahan pertanian sampai pemasaran. 

Dalam berbagai kesempatan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menegaskan, Jabar memberikan perhatian yang besar untuk melahirkan anak muda kembali bertani di desa. 

Diharapkan melalui Program Petani Milenial terjadi regenerasi, sehingga ke depan usia petani di Jabar bisa digantikan oleh generasi muda di bawah usia 40 tahun. Saat ini 70 persen petani di Jabar rata-rata berusia 70 tahun. 

Diharapkan pula dengan penguasaan teknologi pertanian akan terjadi pergeseran kesejahteraan yang sebelumnya didominasi pekerjaan di perkotaan ke perdesaan.