.

Kadisdik Jabar Dedi Supandi Tegaskan Tak Boleh Ada Perpeloncoan Dalam MPLS 2022

Caption : Kepala Dinas Pendidikan Provinsi (Kadisdik) Jabar, Dedi Supandi saat membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) serentak se-Jabar di SMKN 3 Kota Bandung

BANDUNG.LENTERAJABAR.COM
,- Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kegiatan belajar mengajar mulai dari jenjang SD,SMP hingga SMA SMK dan SLB se-Jawa Barat (Jabar) untuk tahun ajaran 2022/2023,akan berlangsung 100 persen per 18 Juli 2022. 

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi (Kadisdik) Jabar, Dedi Supandi mengatakan ada 848 sekolah negeri yang melaksanakan MPLS tahun ajaran 2022/2023, secara serentak. Berlangsung selama tiga hari.

Adapun tujuan MPLS kata Dedi untuk menanamkan wawasan kebangsaan termasuk nilai-nilai pengenalan di lingkungan sekolah, kurikulum, dan pendidikan karakter “Jabar Masagi”.

“Semuanya lebih ke bagaimana arah kita membuat peserta mengetahui tentang wawasan kebangsaan dan pendidikan karakter,” kata Dedi di SMKN 3 Kota Bandung, Jalan Solontongan, usai menghadiri kegiatan pembukaan MPLS serentak se-Jabar, secara daring, Senin (18/7/2022).

Dirinya juga memberikan pesan penting kepada para siswa sebagai penerus bangsa, agar menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jangan sampai nasib negara Indonesia hilang seperti Yugoslavia yang kini sudah tiada.

Masih sehubungan dengan MPLS, awak media menanyakan apakah ada perpeloncoan saat MPLS, dia menegaskan bahwa hal tersebut dilarang dan tidak boleh dilakukan.

“Enggak ada (perpeloncoan), sifatnya hanya pengenalan, sehingga peserta didik bisa mengenal sesama teman, lingkungan sekolah, termasuk juga wawasan kebangsaan,” tegasnya.

Dedi mengaku bahwa pihaknya telah mengantisipasi untuk mencegah terjadinya perpeloncoan atau perundungan pada saat MPLS di sekolah.

“Kan udah diawasi, nanti ada pengawas dari panitia MPLS termasuk juga ada komite sekolah dan orang tua. Insya Allah nggak ada,” ucapnya.

Menyoal Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen, Dedi mengungkapkan, meski kasus COVID-19 naik, pihak sekolah telah mempersiapkan sarana dan fasilitas seperti handsanitizer dan cuci tangan.

“COVID-19 memang naik, tapi PTM tetap 100 persen karena memang pihak sekolah, satuan pendidikan dan juga sarana sudah tersedia, seperti handsanitizer, cuci tangan itu harus dilaksanakan. Dan sekolah pun telah menyediakan sarana itu,” ungkapnya.

“Jadi sampai saat ini telah kita lakukan 100 persen,” tambahnya.

Dedi menjelaskan bahwa dalam melakukan pengawasan saat PTM, petugas di setiap Cabang Dinas Pendidikan, melakukan kegiatan pengawasan sekolah.

“Jadi ada pengawas sekolah yang bertanggung jawab,” jelasnya.

Saat ditanya terkait Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Dedi menyampaikan bahwa kuota siwa SMA-SMK negeri maupun swasta di Jabar itu ada 704.306 kuota total.

“Dari kuota total ini tidak seluruh sekolah swasta itu mengikuti pola online  (saat PPDB), maka yang saya sampaikan itu adalah hanya pendaftar yang diterima mengikuti pola online di PPDB,” ujar Dedi.

Menurut Dedi, jika dilihat dari tahap satu ada 286.000 pendaftar dan ada 179.000 kuota, tapi yang diterima hanya 153.555.

“Artinya hari ini, terjadi pendaftar peserta didik yang hanya mendaftar ke salah satu titik sekolah. Seharusnya penerimaan seimbang dengan kuota. Kalau ini enggak. Artinya peserta didik mereka terfokus ke sekolah-sekolah tertentu,” paparnya.

Lebih lanjut, Dedi menyatakan bahwa ada satuan pendidikan atau sekolah yang mendekati kuota full maksimal seperti di daerah Kota Bogor, Kota Bandung, Kota Depok, Kota Bekasi, Kota Cirebon hampir mendekati 100 persen.

Tapi ada dua wilayah yang kuotanya tidak tercapai seperti di wilayah Indramayu dan Cianjur kuota tercapainya masih di bawah 80 persen.

“PPDB ini bukan hanya cerita terpenuhinya kuota, itu mengakunya kepada angka partisipasi kasar. Di Cianjur ada masyarakat yang aktivitasnya dilakukan di beberapa pesantren, ini kan kaitannya dengan budaya atau kultur.Kalau Indramayu masih harus terus ditingkatkan,” tandasnya.(Red/SR)