.

Mungkinkah Mengatasi Tsunami?

     


                          Oleh Siti Susanti, S.Pd. Pengelola Majlis Zikir As-Sakinah Bandung

Bagi mereka yang tinggal di Jawa Barat tampaknya harus lebih waspada, terutama yang tinggal di sekitar pantai, karena Jawa Barat memiliki 5 wilayah  yang rawan terkena bencana gempa bumi dan tsunami (tsunamigenik), meliputi Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Pangandaran. (PikiranRakyat.com, 18/1/2022) 

Tsunami adalah gelombang air besar yang diakibatkan oleh gangguan di dasar laut, seperti gempa bumi. Gangguan ini membentuk gelombang yang menyebar ke segala arah dengan kecepatan gelombang mencapai 600–900 km/jam. 

Bagi seorang beriman, ia adalah bukti kekuasaan Sang Pencipta. Jika Ia berkehendak jadi, maka jadilah. Manusia berada di luar kemampuan untuk mencegahnya. 

Hingga saat ini, tsunami belum bisa diprediksi terkait kapan terjadinya. 

Di sisi lain, upaya mengurangi jumlah korban akibat bencana dan tsunami, berada dalam ranah kemampuan manusia. Disinilah manusia ditantang untuk mengembangkan berbagai kemampuan dan teknologi dalam rangka hal ini. 

Patut disayangkan,  peristiwa pencurian pelampung (buoys), yang merupakan salah satu alat pengukuran gelombang pasang, oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Padahal, gelombang pasang ini penting untuk peringatan dini tsunami. 

Zaman sekarang ini, seringkali yang dikejar hanya materi. Tanpa memperhatikan halal haram dalam memperolehnya, segala upayapun ditempuh, termasuk mencuri benda yang berkaitan dengan kehidupan banyak orang. Tidak bisa dipungkiri, sistem kapitalisme seringkali membuat manusia menjadi serakah. 

Di sisi lain, penjagaan terhadap nyawa menjadi hal yang sering diabaikan, karena lebih fokus memandang materi. Anggaran yang kurang memadai terkait tsunami, menjadi kendala dalam meminimalisir korban akibat bencana. 

Dalam tuntunan Islam, terdapat larangan untuk melakukan perbuatan yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, sebagaimana hadits Nabi SAW : " Jangan membahayakan diri sendiri dan jangan menimpakan bahaya kepada orang lain".

Berdasarkan hadits di atas, seorang muslim akan menjauh dari perbuatan merugikan diri sendiri maupun orang lain. 

Seorang muslim akan merasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga tidak akan mengambil benda yang bukan miliknya, Inilah bagian dari keimanan kepadaNya. 

Dalam Islam, memelihara jiwa merupakan hal yang utama. Sehingga, berbagai upaya akan ditempuh untuk meminimalisir jumlah korban akibat tsunami. 

Upaya ini bisa berupa tidak tinggal di daerah rawan bencana tsunami, penataan wilayah yang memperhatikan zona rawan bahaya, serta penyediaan sarana dan prasarana yang diperlukan. 

Berbagai upaya ini membutuhkan pengaturan negara. Dalam Islam, negara berperan sebagai junnah (perisai), yang akan melindungi rakyat dari kebinaasaan sebagaimana hadits Nabi SAW :

" Imam (kepala negara) adalah junnah (perisai)."

Berdasarkan hal ini, berbagai upaya yang dapat mengurangi jumlah korban akibat tsunami harus menjadi perhatian utama bagi para pemegang kebijakan. Mengabaikannya berarti mengabaikan nyawa dan tentunya berdosa di hadapan Allah SWT.