.

Ramadan Mendekat, Momentum Perubahan Diri dan Umat

 


                                                                       Oleh: Ita Wahyuni, S.Pd.I,
                                                                      (Pemerhati Masalah Sosial)

“Selamat datang Ramadan, bulan penuh ampunan. Selamat datang Ramadan, bulan penuh ganjaran. Mari kita menyambut dengan hati gembira. Mari kita menyambut dengan hati bahagia. Marhaban ya syahra ramadan ya syahra shiyaam...”

Penggalan lagu ini berjudul ‘Marhaban Ya Ramadan” yang dinyanyikan oleh Haddad Alwi feat Anti. Tembang ini selalu hits setiap tahunnya saat menyambut Ramadan. Liriknya pun menggambarkan rasa sukacita kaum Muslim dalam menjemput indahnya bulan suci yang penuh keutamaan tersebut.  

Ya, Ramadan adalah bulan yang begitu istimewa. Di antara 12 bulan, Allah telah menetapkan satu bulan yaitu Ramadan sebagai bulan yang mulia dan menjadikannya bagian dari rukun Islam yang lima. Setiap amalan kebaikan yang dilakukan selama berpuasa akan bernilai pahala. Bahkan pahalanya berlipat ganda.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah  Saw. bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal sehingga tujuh ratus kali lipat, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan RabbNya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151).

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramdan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hambaNya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.” (Lathif Al-Ma’arif, hlm. 271).

Tak hanya mendapatkan pahala puasa, kaum Muslim pun akan merasakan ganjaran lain yang luar biasa. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya itqun minan nar (pembebasan dari api neraka).”  

Jika dirincikan maka, pada 10 hari pertama Ramadan Allah membuka pintu rahmat-Nya untuk sertiap hamba yang melakukan puasa. Mereka dipandang sebagai seorang yang mulia karena menjalankan ibadah sejak awal.

Adapun keistimewaan 10 hari selanjutnya adalah memperoleh ampunan tanpa batas. Segala dosa yang pernah diperbuat pada masa lalu akan diampuni Allah. Seberapa besar batas ampunannya? Tidak ada batasan, pintu ampunan akan dibuka seluas-luasnya bagi setiap hamba yang meminta.

Sementara untuk keutamaan pada 10 hari terahir Ramadan adalah adanya jaminan tak tersentuh api neraka. Manusia akan kembali bersih seperti awal mula. Pada waktu itu, ada pula malam yang sangat istimewa yakni Lailatul Qadar.

Barang siapa yang beribadah pada malam itu, maka ibadahnya akan sama dengan ibadah yang dilakukan 1.000 bulan lamanya. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya telah kami turunkan Alquran pada pada malam kemuliaan. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr: 1-5).

Maka, tidak ada alasan untuk tidak bergembira saat menyambut Ramadan. Kaum Muslim akan bersukacita menjalankan ibadah puasa karena di dalamnya ada kebahagian dan limpahan pahala yang Allah berikan kepada hamba-Nya.

Meskipun tahun ini kali kedua kita melaksanakan puasa dalam suasana pandemi, Ramadan tetaplah bersemi. Ancaman wabah tidak boleh melemahkan semangat untuk menggapai hikmah bulan tersebut. Ramadan yang semakin mendekat haruslah menjadi kesempatan bagi kita untuk menempa diri agar iman tambah meningkat dan ketakwaan melekat kuat.

Selain perubahan diri, bulan nan mulia ini juga hendaknya menjadi momentum bagi umat Islam untuk meraih ketaatan total. Hingga kini masih banyak Muslim yang mengaku mengimani Allah, tapi mencampakkan segala aturan-Nya dan tidak meneladani Rasul-Nya dalam kehidupan. Padahal iman yang hakiki menuntut pengamalan seluruh syariat-Nya.

Allah Swt. secara tegas menolak keimanan seseorang yang enggan tunduk pada syariat-Nya. Hal demikian tertuang dalam firmannya, “Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (TQS. An-Nisa :65)

Karenanya, Ramadan merupakan waktu yang tepat bagi umat untuk bertobat dan menerapkan seluruh syariat. Penderitaan umat yang berkepanjangan setelah 100 tahun tiada kepemimpinan Islam dan berbagai musibah yang datang silih berganti termasuk menyebarnya wabah corona seharusnya menjadi peringatan bagi kita untuk kembali pada hukum-hukum-Nya.  

Untuk itu, kita harus menyiapkan diri bersungguh-sungguh dalam mengoptimalkan segala amal ibadah selama bulan puasa. Jadikan Ramadan kali ini lebih istimewa. Mari hiasi Ramadan dengan ibadah dan amal shalih. Tak lupa belajar dan pahami Islam secara utuh serta menebar kesadaran memperjuangkan tegaknya Islam kaffah. Wallahua’lam bish showab **