.

Sinergi Selama Pandemi Tingkatkan Semangat Pelaku Usaha Perempuan

JAKARTA.LENTERAJABAR.COM,-Pandemi Covid-19 memberikan dampak cukup signifikan bagi para pelaku usaha perempuan mikro dan kecil. Masalah yang banyak dihadapi, diantaranya penurunan penjualan, kesulitan bahan baku, distribusi terhambat, dan produksi menurun.  Penjualan secara online dinilai merupakan salah satu alternatif solusi meningkatkan penjualan hasil produksi di masa pandemi ini.

“Dengan adanya permasalahan yang dialami perempuan pelaku usaha selama pandemi, maka sebaiknya kita juga menerapkan sinergi dengan melibatkan 5 pihak terkait, yakni pemerintah, lembaga masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media massa agar dapat menjadi solusi dan mendongkrak semangat bagi para pelaku usaha perempuan selama pandemi,” tutur Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Agustina Erni dalam serial webinar Perempuan Pelaku Usaha Mikro Kecil, Inovasi di Masa Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan oleh Kemen PPPA bersama dengan Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) dalam rangka menyambut Peringatan Hari Ibu (PHI) 2020 Jumat (10/9/2020).

Agustina Erni menambahkan semua pihak harus bersama-sama memetakan dan menyinergikan teknologi dan keahlian yang dibutuhkan. Teknologi mampu dijadikan sebagai sebuah solusi dan inovasi bagi suatu permasalahan, misalnya untuk merespon kelangkaan bahan baku. Penjualan secara online juga merupakan salah satu alternatif solusi untuk meningkatkan penjualan hasil produksi di masa pandemi.

Berdasarkan data UKM Indonesia pada 2020 para pelaku usaha yang masih bertahan dan bahkan mengalami peningkatan omset adalah mereka yang menggunakan metode usaha online. Erni berharap ke depan pelatihan online bagi perempuan pelaku usaha, baik pelatihan terkait pemasaran, proses produksi, dan lain-lain semakin diperluas jangkauannya. Namun, permasalahan sarana juga menjadi penting, di antaranya ketersediaan sinyal dan gawai. Erni berharap Dinas PPPA di daerah dapat melakukan pemetaan terkait perempuan pelaku usaha yang ingin berpartisipasi mengikuti pelatihan online. 

Dalam kesempatan ini, Deputi Direktur Pengorganisasian Komunitas PEKKA, Romlawati mengapresiasi kerja sama yang telah dilakukan oleh Kemen PPPA dan PT. XL Axiata terkait peluncuran Kelas Inkubasi Sispreneur yang ditujukan bagi kalangan perempuan pelaku usaha mikro.

“Kelas Inkubasi Sispreneur sangat bermanfaat karena pelaku usaha perempuan diberikan pendampingan dan pelatihan secara intensif. Yayasan PEKKA juga telah mendirikan PEKKA-Mart di beberapa daerah yang berperan sebagai pusat grosir pengadaan bahan pokok dan bahan produksi bagi anggota PEKKA. Selain itu, Yayasan PEKKA juga mengadakan koperasi simpan pinjam yang selama masa pandemi melakukan relaksasi pinjaman terhadap anggotanya. Sejauh ini, koperasi simpan pinjam tersebut telah melayani lebih dari 30.000 anggota PEKKA di 20 provinsi,” terang Romlawati.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kab.Rembang, Prov. Jawa Tengah, Sri Wahyuni sepakat bahwa pengembangan Industri Rumahan (IR) tidak terlepas dari peran dan sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan akademisi. Hal tersebut terbukti hingga saat ini, setelah dilakukan piloting Industri Rumahan (IR) di Pasar Banggi dan Tritunggal, Kab. Rembang berhasil mereplikasi IR di 35 desa. 

Pelaku Industri Rumahan Usaha Olahan Makanan di Kab. Rembang, Eko Purwati mengatakan bahwa di awal pandemi, pesanan hasil produksi rengginangnya menurun. Namun, para pendamping IR selalu memberikan motivasi dan menginisiasi pelatihan pembuatan masker dan face shield yang akhirnya dapat diproduksi. Di samping itu, dengan bantuan pemerintah daerah yang memasarkan hasil produksinya, akhirnya hasil produksi rengginang Eko Purwati mendapat beberapa pesanan kembali.



Manfaat sinergi antara pemerintah dengan Yayasan PEKKA juga dirasakan oleh kelompok usaha perempuan di Kab. Bolaang Mongondow, Prov. Sulawesi Utara. Bendahara Serikat PEKKA Kab. Bolaang Mongondow, Cristina Pontolondo mengatakan selama ini, usaha para kelompok usaha perempuan dalam memproduksi minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) mendapat dukungan dari pemerintah desa dan Yayasan PEKKA. Dukungan tersebut, diantaranya melalui pemberian modal usaha dan pelatihan produksi minyak kelapa murni.

“Selama pandemi, sekitar 5 bulan terakhir, produksi kami menurun dan pendapatan berkurang. Hal ini karena keterbatasan kami untuk melakukan pertemuan. Namun, di satu sisi, karena masyarakat sekitar takut untuk mengunjungi Puskesmas ketika sakit, maka mereka membeli minyak kelapa murni produksi kami untuk obat penyakit dalam, sudah 40 botol yang dipesan. Akhirnya, beberapa anggota kami memasarkan minyak kelapa murni kepada masyarakat sekitar sebagai obat penyakit dalam. Selama ini, koperasi PEKKA juga memiliki peran untuk meminjamkan modal usaha,” cerita Cristina.