.

Legislator Pertayakan Pinjaman Pemprov Jabar Ke SMI

Sekretaris Komisi II DPRD Jabar Yunandar Rukhiadi Eka Perwira

BANDUNG.LENTERAJABAR.COM,-Rencana pemerintah provinsi untuk melakukan pinjaman sebesar Rp4 triliun dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dengan fokus pembangunan infrastruktur, kurang tepat di tengah situasi penanganan Covid-19.

Menyikapi hal tersebut Sekretaris Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat, Yunandar Rukhiadi Eka Perwira,menilai seharusnya Pemprov mengedepankan skala prioritas di tengah kondisi saat ini, di mana perekonomian masyarakat sedang buruk akibat dampak dari Covid-19.

Menurut politisi dari PDIP ini,ada tiga prioritas utama yang lebih baik dilakukan, kata Yunandar, jika memang ingin memanfaatkan pinjaman dari pemerintah pusat.

Pertama kata dia adalah masalah kesehatan, bansos dan insentif untuk pelaku usaha. Bukan pembangunan infrastruktur yang dinilainya baru akan ada dampak positifnya bagi masyarakat dalam jangka panjang,papar Yunandar kepada media,Selasa (8/9/2020).

Lebih lanjut dikatakannya hal tersebut kata Yunandar sebaiknya dikaji ulang, karena bukan sebuah kebutuhan mendesak. Mengingat yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah bantuan nyata yang dapat memulihkan perekonomian,sesegera mungkin.

“Pinjaman PEN ini menurut saya bagus-bagus saja. Tapi persoalannya saat ini adalah yang dibutuhkan masyarakat bukan infrastruktur. Pemerintah harusnya mengutamakan skala prioritas. Ada tiga prioritas yang harus dilakukan pemerintah dalam penanganan Covid-19 ini, yaitu kesehatan, bansos dan insentif untuk UMKM. Bukan infrastruktur,” katanya.

Menurutnya, meski akan ada biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam program tersebut, tetapi yang menikmati dari pelaksanaan pembangunan infrastruktur adalah perusahaan besar dan bukan masyarakat umum. Kecuali, kata Yunandar, pemerintah bisa memberikan solusi dalam pelaksanaannya sehingga masyarakat bisa terbantu perekenomiannya dalam jangka pendek.

Ditambahkan walaupun nanti dari program infrastruktur ini ada biaya yang keluar, tapi itu hanya beberapa perusahaan saja dan itu perusahaan besar. Bukan pelaku usaha kecil. Misal dengan memanfaatkan padat karya. Itu mungkin saja bisa membantu perekonomian masyarakat dalam jangka pendek. Kalau tidak, ya tidak ada dampak yang signifikan dari pinjaman tersebut untuk masyarakat saat ini,” pungkas wakil rakyat daerah pemilihan (dapil) Jabar 1 meliputi Kota Bandung dan Cimahi ini.(fer)