.

Dampak Covid-19 Di Jabar , 575 Hotel Tutup & 25 Ribu Karyawan dirumahkan

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik
BANDUNG.LENTERAJABAR.COM,-Dampak penyebaran Virus Covid-19 di Jawa Barat mengakibatkan sektor perhotelan dan Destinasi Wisata terpaksa ditutup. 

Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, ada sekitar 575 hotel tutup. "Akibat ratusan hotel tersebut tutup, sekitar 25 ribu SDM (karyawan) hotel dirumahkan," ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik dalam siaran persnya, Rabu (8/4/2020). 

Sebelumnya, Dedi Taufik melaksanakan rapat koordinasi dengan kabupaten/kota di Jawa Barat, PHRI, GIPI, Asosiasi Pariwisata serta pelaku usaha Industri Pariwisata di Jawa Barat, melalui Zoom Meeting, pada Selasa (7/4/2020). 

Menurut Dedi, melihat dampak penutupan hotel dan destinasi wisata tersebut, Disparbud Jabar akan mempersiapkan langkah-langkah recovery, agar supaya hotel dan Destinasi Wisata tetap berjalan. "Diharapkan, bulan Agustus 2020 penanganan virus Covid -19 usai, recovery akan kita jalankan dan tahun 2021 normalisasi sektor pariwisata dan Industri Pariwisata akan kembali berjalan," katanya.

Dikatakannya, langkah-langkah revocery dan normalisasi ini sudah diinformasikan kepada kabupaten kota dan diusulkan ke pemerintah pusat. "Saya berharap kabupaten kota bisa bertindak cepat dengan hal tersebut dan terus berkomunikasi dengan Pemprov Jabar," katanya. 

Untuk program recovery, lanjut Dedi, pada bulan Agustus hingga Desember akan diluncurkan program bantuan langsung tunai (BLT) dan program padat karya. Hal itu dikatakan Dedi, sesuai intruksi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI, Wisnhutama Kusubandio. 

Bahkan Kemeterian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menerapkan tiga langkah strategis untuk mengatasi dampak wabah Virus Corona baru (Covid-19) bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Tanah Air. 

Menparekraf menjelaskan pihaknya menyiapkan tiga tahapan untuk merespon dampak Covid-19 yaitu tanggap darurat, pemulihan, dan normalisasi. “Di tahap tanggap darurat ini kami memberikan support kepada tenaga kesehatan untuk menyiapkan akomodasi, makanan, hingga transportasi. Karena tenaga kesehatan saat ini menjadi garda terdepan dalam penanganan kasus Covid-19 agar tidak meluas. Untuk itu kita perlu ’support’ yang luar biasa juga dari berbagai pihak,” kata Wishnutama. 

Wishnutama juga menjelaskan pada tahap kedua yaitu pemulihan. Pihaknya akan melakukan identifikasi dan berkoordinasi dengan K/L lain untuk mengindentifikasi dampak secara detail akibat wabah COVID-19. 

Selanjutnya memberi dukungan kepada para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dari sisi ketenagakerjaan, utilitas, keringanan retribusi, relaksasi pinjaman, pemanfaatan kartu pra kerja, hingga pelatihan online untuk SDM. 

Terakhir, lanjut dia, adalah tahap normalisasi yakni melakukan promosi kembali baik di dalam maupun luar negeri, hingga menyiapkan insentif untuk industri pariwisata sekaligus pelaku ekonomi kreatif. 

Kemenparekraf juga akan kembali menyusun keterlibatan dalam agenda-agenda internasional dan kalender kegiatan nasional untuk menunjang wisata. Selanjutnya, kembali membenahi destinasi khususnya dari sisi keamanan dan keselamatan, sumber daya manusia, serta daya tarik setiap destinasi.(Rie/Rel)