.

Pemdaprov Bersinergi Pencegahan dan Penanganan DBD di Jabar

Narasumber Jabar Punya Informasi (Japri) ke 65 dengan tema Pencegahan dan Penanganan DBD di Jabar saat menyampaikan materi di  lobby museum gedung  sate jalan Diponegoro no 22 Kota Bandung.  Jum’at (13/3-2020)
BANDUNG.LENTERAJABAR.COM,-Wabah penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) yang disebab nyamuk Aedes Aegypti kini tengah menyerang hampir di seluruh Kabupaten/kota se-Jabar.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerinta Daeraha Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat (Jabar) sudah mengambil sejumlah langkah untuk menangani dan menanggulangi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jabar.

Kepala Dinkes Jabar Berli Hamdani mengatakan, pihaknya bersama Dinkes Kabupaten/Kota melakukan pemantauan jentik secara berkala. Menginggat triwulan pertama tahun 2020 ini, sudah ada 15 orang yang meninggal dunia dari 5.000 kasus akibat DBD di Jabar. Sedangkan pada tahun 2019 lalu ada sebanyak 49 orang yang meninggal dunia.

Demikian hal tersebut diungkapkan Berli Hamdani dalam acara Jabar Punya Informasi (JAPRI ke 65) dengan tema Pencegahan dan Penanganan DBD di Jabar bertempat di  lobby museum gedung  sate jalan Diponegoro no 22 Kota Bandung.  Jum’at (13/3-2020). Selain Berli narasumber pada acara ini  Dr.KM.Agus Riyanto SKM, M.Kes ( Dosen Universitas Jend.A.Yani / Unjani) Bandung. Wiwin (Kader Jumatik dari Kelurahan Neglasari Kec. Cibeuying Kaler).

Lebih lanjut dikatakan Berli,untuk menekan berkembang biaknya jentik nyamuk teresebut salah satunya dengan mendorong gerakan satu rumah satu pemantau jentik (Jumantik).

"Kemudian, persediaan abate di semua kabupaten/kota cukup untuk dibagikan ke masyarakat. Tapi, memang perlu koordinator di setiap RT untuk menyalurkan abate," kata Berli.

Dinkes Jabar memetakan tiga pengelompokan daerah kasus DPD 2020 yaitu Kelompok daerah merah yang banyak warga terserang DBD dan sudah ada yang meninggal dunia) terdiri dari Kota Depok, Kab/kota Bogor, Kab/kota Sukabumi, Kota Bandung, Kab Cirebon, Kab.Ciamis; Kab/kota Tasikmalaya.

Kelompok daerah Kuning yaitu warga terserang DPBD belum banyak dan belum ada yang meninggal dunia) yaitu Kab/kota Bekasi; Kab Karawang; Kab Purwakarta; Kab Cianjur, Kab Majalengka; Kab Indramayu dan Kota Banjar. Sedangkan kelompok daerah Hijau ( belum ada kasus/ bebas) DBD) yaitu Kota Cirebon dan Kab. Pangandaran.

Lebih lanjut Berli mengatakan, daerah Merah yang sudah ada kematian warganya yaitu Kab.Ciamis, Kab Bogor dan Kab. Bekasi. Sedangkan kasus terbanyak terjadi di kota Bogor, kota Bandung dan kab. Karawang, jelasnya. 

Dr.Agus Riyanto, mengungkapkan ada beberapa trik mencegah DBD yaitu melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M Plus (menguras, menutup, memanfaatkan tempat yang berpotensi jadi tempat berkembang biak nyamuk).Membersihkan bak kamar mandi satu minggu sekali;  Jangan menumpuk atau menggantung baju terlalu lama; Gunakan Lotion anti Nyamuk .

Agus juga menyarankan masyarakat untuk melakukan gerakan Jumat Bersih atau apapun itu yang dilakukan secara masif dan bersama-sama. Sehingga, bisa menghilangkan tempat nyamuk berkembang biak,tuturnya seraya menambahkan untuk memelihara ikan cupang.
Karena ikan cupang doyan memakan jentik-jentik nyamuk . Untuk itu,wajib dipelihara untuk berantas DBD. Selain itu, Ia juga menyarankan untuk menanam bunga Lavender,sereh tanaman hias warna ungu, nyamuk sangat tidak suka dengan bau bunga levender,
terangnya.

Langka terakhir  dilakukan fogging. Fogging itu dilakukan di tempat yang sudah positif ada virus deague pada darah seseorang, baru dilakukan fogging," imbuhnya.

Sementara  Wiwin Kader Pos Yandu/PKK yang juga ( Kader Jumatik) mengatakan,  dirinya menghimbau dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menggalakan kebersihan dalam rumah dan lingkungan.

“ Jangan biarkan sampah dan genangan air berada dilingkungan rumah seperti di pot bunga,dispenser dan lemari es karena itu akan menjadi sarang dan tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti/ Dengue”,jelas kader dasa wisma Kelurahan Neglasari Kec. Cibeuying Kaler ini.( Rie/Red)