.

Pemdaprov Jabar Mendukung Pengembangan Industri Kreatif

Narasumber  Jabar Punya Informasi (Japri) ke-63 foto bersama seusai acara di Lobby Lokantara Gedung Sate jalan Diponegoro no 22 Kota Bandung, Kamis (20/2/2020). 
BANDUNG.LENTERAJABAR.COM,-Pemerintah daerah provinsi (pemdaprov) Jawa Barat memiliki komitmen untuk mendukung industri kreatif yang merupakan penyumbang ekspor nasional terbesar sekitar 34 persen. Hal itu termasuk juga fashion, kuliner dan juga perfilman.

Menyikapi hal tersebut Pemdaprov melalui biro Humas dan Protokol  pada acara Jabar Punya Informasi (Japri) ke-63 dengan mengusung  tema " Pengembangan Industri Kreatif  " di Lobby Lokantara Gedung Sate jalan Diponegoro no 22 Kota Bandung, Kamis (20/2/2020). 

Pada Japri ini menghadirkan Kadis KUK Jabar diwakili sekdis Suhra,Kepala Bidang Industri Pariwisata pada Disparbud Jawa Barat, Aziz Zulficar,Coordinator Visual Communication Design Department Bina Nusantara Bandung.Founder dan Owner Amygdala Bamboo dan Produser dan Pengisi Suara Film Animasi "Riki Rhino".Hamish Daud, Ge Pamungkas, Niken Anjani, hingga Dimas Danang. 

Sekretaris Dinas Koperasi & Usaha Kecil Jabar, Suhra  mengatakan,karena turunannya dari film animasi seperti disebutkan itu kan panjang, peluang ini bisa ditangkap UMKM minimal bikin boneka.

“Kami optimis dengan peluang tersebut bisa jadi pendorong untuk menciptakan UMKM baru yang ditargetkan bisa menyentuh jumlah 3.500 pelaku usaha. Sebelumnya, pengembangan di 2.500 UMKM. Fokusnya tak hanya memproduksi barang tapi juga jasa,” ujarnya .

Menurut Kementerian Perdagangan Indonesia, industri kreatif adalah industri yang memanfaatkan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Sedang diterangkan Kepala Bidang Industri Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jabar, Azis Zulficar untuk pengembangan industri kreatif, pihaknya bakal menyelesaikan 6 gedung creative hub yang tersebar di Bogor, Purwakarta, Cirebon, Subang, Bekasi, dan Tasikmalaya.

Keberadaan pusat-pusat kreativitas itu diharapkan bisa memunculkan talenta-talenta di sektor ekonomi kreatif termasuk animasi yang konsen untuk dikembangkan lebih intens

“Nantinya, pusat kreatif itu akan kita dorong juga untuk pengembangan animasi, kita dorong munculnya animator-animator setempat. Kita coba dengan arahkan mereka untuk mengangkat konten lokal,” tandasnya.

Disparbud Jabar berupaya memberikan fasilitas dan wadah kepada para pembuat film animasi dan komik di Jawa Barat yakni melalui pembangunan gedung Creative Centre atau Creative Hub di 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat yang sejauh ini dalam tahap pengerjaan oleh Dinas Perumahan dan Permukiman Jabar.

“Insya Allah dari sisi target, tahun ini selesai yaitu di Kota Bogor, Purwakarta, Cirebon, Kota Tasikmalaya, Bekasi dan satu lagi Subang. Nah untuk yang 12 DED lainnya itu dikerjakan perencanaannya oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat untuk 12 kabupaten kota tahun ini, sehingga sampai target untuk 2002-2003,” katanya.

Namun demikian, penggunaan creative center atau creative hub ini, akan disesuaikan berdasarkan unggulan-unggulan di daerahnya masing-masing.

“Termasuk juga yang unggulan di daerah lain, nanti ada 16 subsektor ya, mulai dari kriya, kuliner, animasi, arsitektur, desain grafis, seni pertunjukan, juga termasuk seni lain-lain,” jelasnya.

Menurutnya, untuk bisa memproduksi film animasi, sambungnya, pihaknya ingin dorong produksi film-film lain yang dibuat oleh ahli animasi Jabar. Sebab diyakini potensinya sangatlah besar.

“Sebagai contoh untuk Kota Sukabumi saja itu dia konsennya banyak sekali festival-festival film yang dilakukan oleh komite komunitas ekraf filmnya Kota Sukabumi. Begitupun dengan Kota Bogor ada satu komunitas yang membuat komik-komik seperti komik Jepang, tapi itu juga nanti arahnya kan ke animasi, jadi animator-animator tadi sudah disebutkan banyak sekali talenta-talenta yang mumpuni untuk pembuatan film-film yang berkualitas,” pungkasnya.

Kendati tak dipungkiri selama ini banyak juga film animasi yang dibuat di Bandung. Untuk itu pihaknya berupaya untuk mengumpulkan komunitas-komunitas tersebut dan mewadahinya. Dengan begitu, ia akan mendapatkan masukan untuk mendorong industri animasi di Jabar kian baik.

Maka itu melalui Disparbud Jabar, ia akan mengerjakan perencanaan Detail Engineering Design (DED) creative center di 12 daerah.

“Sehingga sampai target untuk target 2022-2023 sebanyak 27 kabupaten kota yah, karena Bandung sudah punya kita akan bangung gedung creative center,” katanya.

“Kita ingin mengetahui progres apa yang harus dikerjakan, usulan usulan untuk mengerjakan perfilman animasi di Jabar,” katanya

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil ikut ambil bagian dengan menjadi pengisi suara atau dubber sebuah karakter di film animasi karya anak bangsa, “Riki Rhino” yang dirilis pada akhir Februari 2020. Dan Kang Emil panggilan gubernur dubbing pada karakter elang jawa bernama Gradra.

Produksi film animasi yang sebagian besar dilakukan di Jabar dengan proses waktu 4.5 tahun ini juga menampilkan suara Hamish Daud, Ge Pamungkas, Niken Anjani, hingga Dimas Danang.

Film animasi Riki Rhino yang kontennya mengenai sejumlah hewan langka di Nusantara, termasuk Jabar. Animator asal Jabar berperan di dalamnya. Tokoh dalam film tersebut di antaranya badak sumatra yang suaranya diisi Hamish Daud.

Animasi Riki Rhino sendiri sudah digarap bersama Pemprov Jabar dalam hal kontennya, mengingat substansinya mengangkat elang jawa, karena elang jawa sendiri adalah sebagai hewan yang endemik di Jawa Barat.

Film animasi sebagai salah satu industri kreatif diyakini dapat optimal dikembangkan di Jabar. Bahkan celah-celah dalam industri kreatif bakal dioptimalkan UMKM Jabar.Sebab itu, film animasi keberadaannya ikut ambil bagian mendorong terciptanya ekosistem di industri kreatif seperti pengembangan animasi.(Rie/Red)