Notification

×

Iklan

Iklan

Keunggulan Indigofera Dibanding Pakan Ternak Lain

Selasa, 27 Desember 2016 | 13:34 WIB Last Updated 2016-12-27T06:48:15Z
CIANJUR - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) melakukan panen perdana Indigofera, sekaligus meluncurkan produk pakan ternak Indigofera di Desa Sirnagalih, Kecamatan Sindang Barang, Kabupaten Cianjur, Selasa sore (18/10/16). Dia pun menyambut baik atas panen perdana tanaman hijauan jenis leguminosa ini, sebagai cara untuk meningkatkan swasembada pangan protein hewani di Jawa Barat.

Indigofera ini merupakan hijauan pakan ternak jenis leguminosa, pohon yang memiliki nutrisi tinggi berasal dari tanah Papua. Rata-rata tinggi pohon Indigofera ini sedang namun memiliki daun yang lebat dan bisa berproduksi banyak. Selain itu, pakan ternak murah dan berkualitas ini diyakini bisa menurunkan biaya produksi pakan, karena dari satu hektar Indigofera ini cukup untuk 10 ekor sapi, sementara untuk satu hektar rumput biasanya hanya cukup untuk satu ekor sapi, sehingga sangat produktif dan efisien. Hal ini bisa berdampak pada turunnya biaya produksi ternak dengan demikian akan menurunkan harga daging di pasaran.

Produksi pakan Indigofera dalam satu hektar bisa menghasilkan 12 ton per satu kali panen. Sementara waktu tanam yang dibutuhkan 40 sampai 50 hari dengan harga Rp 400/kg, sehingga akan menghasilkan Rp 4,8 juta per satu kali panen atau Rp 3,6 juta per bulan. Diharapkan dengan keunggulan ini bisa menciptakan lapangan kerja baru di pedesaan, karena Indigofera ini mudah dibudidayakan dan tahan dalam kondisi kering.

Keunggulan lainnya, menurut Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Jawa Barat Deny Juanda Puradimaja dalam laporannya mengatakan, yaitu terletak pada produksi hijauan per tahunnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman sejenis lainnya dan bisa panen hingga sembilan kali per tahun, serta memiliki protein yang sangat tinggi. Hewan ternak lain pun bisa mengkonsumsi pakan ternak ini karena tidak memiliki bahan yang berbahaya untuk ternak.

"Selain itu, tanaman ini bisa juga berfungsi sebagai konservasi kawasan karena bisa sebagai tanaman penahan erosi dan bisa memperbaiki struktur tanah," lanjut Deny.

Indigofera ini terbagi dalam tiga kelas. Kualitas Pertama, tanaman ini hanya bisa dipanen bagian daunnya saja yang dipanen usia satu bulan. Kualitas Kedua, bagian pohon Indigofera yang diambil daun dan batangnya yang berukuran kecil, sementara Kualitas Ketiga adalah tanaman Indigofera yang bisa dipanen setiap dua bulan yang diambil daun dan batangnya. Perbedaan dari ketiga kelas ini yaitu dari kandungan proteinnya, Kualitas Pertama mengandung protein 31, Kualitas Kedua berprotein 26-27, dan Kualitas Ketiga dengan protein 20.

Tanaman hasil temuan Prof. Luki Abdullah dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini akan dikembangkan di sepuluh kabupaten di Jawa Barat, yaitu di Cianjur, Sukabumi, Garut, Ciamis, Sumedang, Majalengka, Indramayu, Bandung, Subang, dan Bogor.

Untuk itu, pada kesempatan ini Gubernur Ahmad Heryawan pun mengungkapkan bahwa Pemprov Jawa Barat akan menjadikan pengembangan produk pangan Indigofera ini sebagai program super prioritas. "Pengembangan tanaman Indigofera ini akan menjadi program super prioritas di Jawa Barat, selain ada program-program lain. Jadi kepada para Kadis terkait, masukan ini dalam program super prioritas kita," ungkap Aher dalam sambutannya.

"Ini terkait dengan perkembangan generasi kita ke depan. Kapan kita bisa bersaing dengan negara maju?. Jawabannya manakala kita sudah mampu menghadirkan swasembada pangan di protein hewani," terangnya.

Sementara itu, menurut Dekan Fakultas Peternakan IPB Mohammad Yamin, penemuan yang telah mendapatkan penghargaan Anugerah Inovasi Jawa Barat ini harus terus dikembangkan. "Apapun nanti yang menjadi kendala di lapangan akan kita perbaiki terus. Insya Allah," kata Muhammad.

Lebih lanjut, Muhammad Yamin juga menjelaskan bahwa pengembangan Indigofera ini bagian dari cara IPB dalam mengembangkan ilmu dari hulu sampai hilir. Mulai dari produksi, pemuliaan, penelitian nutrisi ternak, hingga menciptakan teknologi hasil ternak.

"Dan tahun depan kita akan buka Program Studi Animal Logistic, dimana Logistik Peternakan ini menjadi masalah dalam bisnis peternakan. Dan akan kita kerja samakan dengan fakultas lain dan penelitiannya juga sudah mulai dilakukan," tutur Muhammad.

Komitmen IPB pun dalam pengembangan lanjutan produk Indigofera ini akan terus dilakukan, salah satunya yaitu dengan menghasilkan produk unggulan IPB yang diberi nama "Green Lamb". Green lamb ini merupakan domba muda yang memiliki kolesterol relatif aman dan cepat tumbuh. (FER)
×
Berita Terbaru Update